Perpisahan orang tua dapat membuat seorang remaja terjebak dalam konflik perasaan. Keluarga yang seharusnya menjadi fondasi aman untuk bertumbuh justru runtuh, membuatnya merasa tidak aman dan tidak berharga. Inilah yang dialami oleh Sakila (17 tahun), seorang anak Paket B dari PKBM OBI Tanah Merah yang pernah nyaris kehilangan arah karena perceraian orang tuanya.
Saat ini banyak orang melihatnya sebagai anak yang ceria, mudah berbaur, dan aktif. Namun beberapa tahun lalu, ia pernah melalui masa yang sangat menyakitkan.
Waktu itu ia masih duduk di bangku kelas 6 SD ketika ayah dan ibunya memutuskan untuk berpisah karena perselingkuhan ayahnya. Sejak saat itu, ia kehilangan arah dan berubah menjadi anak yang pembangkang, hingga akhirnya memutuskan untuk berhenti sekolah.
“Aku benar-benar hilang arah… aku sering main nggak jelas,” cerita Sakila.
Yang lebih menyakitkan adalah ketika ia berada di titik terendahnya, keluarga besarnya yang seharusnya menjadi tempatnya berlindung justru sibuk menyalahkan keputusannya dan membuatnya merasa terasing. “Aku kayak nggak dianggap… kayak diasingkan,” ungkapnya.
Perasaan itu menumpuk menjadi rasa kesal dan dendam.
“Waktu itu, kalau mereka minta bantuan, meskipun aku bisa bantu, aku nggak mau bantu, Kak.”
Meski ia memutuskan berhenti sekolah, di dalam hatinya masih ada keinginan untuk belajar, terutama saat melihat anak-anak pulang sekolah. Ia akhirnya bercerita kepada mantan guru lesnya. Saat itu gurunya menyarankan untuk sekolah kejar paket. Dari sanalah ia mendapat informasi tentang sekolah OBI. Inilah momen kecil yang kembali membangkitkan semangat belajarnya.
Hari pertama masuk PKBM OBI, ia merasa sangat canggung.
“Aku takut… trauma ditinggalkan. Takut nggak ada yang mau temenin,” katanya.
Salah satu guru PKBM OBI menyadari ketakutan itu, lalu mulai membimbing dan memberikan konseling.
Ia terus didampingi, terutama saat materi pembelajaran karakter tentang Pengampunan diberikan.
“Kami disuruh merenung dan berdoa… yang muncul dalam doaku orang tuaku. Saat itu aku mau mengampuni orang tuaku, keluargaku, dan aku tidak mau menyimpan dendam lagi,” ujar Sakila.
Sejak saat itu, Sakila merasa lebih tenang. Ia bertekad mengejar cita-citanya sebagai wirausaha dan guru tari dengan belajar sungguh-sungguh. Ia sangat bersyukur bisa berada di PKBM OBI Tanah Merah, karena di sana ia merasa diterima.
“Aku banyak teman. Semua orang merangkul aku… guru-guru OBI bilang ‘kamu harus bisa’.”
“Dia sekarang lebih aktif, apalagi dia suka mengajarkan tari ke teman-teman dan adik-adik yang lain. Sudah terlihat lebih terbuka dia…” cerita gurunya, dengan bangga.
Kami berharap, bukan hanya para guru PKBM OBI Tanah Merah yang bangga menjadi bagian dari perjalanan Sakila, tetapi Anda juga. Karena melalui dukungan Anda, Sakila dan teman-temannya dapat menerima pendidikan yang mereka butuhkan hari ini. Terima kasih, Mitra OBI!
© Copyright 2024
Obor Berkat