Terkadang, perubahan terbesar justru terbentuk dari perhatian kecil dari orang-orang yang ada di sekitar anak. Bagi Gloria Janice Emmanuella, seorang anak perempuan berusia 12 tahun yang akrab dipanggil Janice.
Ia tumbuh besar dari keluarga yang cukup tegas dalam mendidik. Mereka ingin anak-anaknya bertanggung jawab. Karena ia adalah anak sulung, orangtuanya mengajarkannya untuk bertanggung jawab melakukan beberapa tugas di rumah. Tanggung jawab yang biasanya Janice lakukan adalah mencuci pakaian dan beberes rumah. Ia akan ditegur jika lupa melakukan tugasnya.
Namun orangtuanya tidak menyangka bahwa teguran-teguran yang berulang sering membuat Janice merasa tertekan. Perasaan itu ia pendam sendirian dan membuatnya mudah meledak, mudah tersinggung, dan sulit mengendalikan kata-kata saat marah.
Segalanya mulai berubah ketika Janice mengikuti Kelas Karakter di sanggar belajar School of Life JKI Injil Kerajaan Allah Satelit Citarum dengan tema “Saya Berdampak.” Ia diminta memilih kebiasaan yang ingin ia ubah. Dengan jujur, Janice memilih dua hal: merapikan tempat tidur setiap pagi, dan berusaha tidak lagi mudah marah.
Tiga minggu berjalan, Janice merasakan lebih bahagia saat ia melakukan rutinitas paginya dengan membereskan tempat tidurnya. Apalagi saat ibunya lebih sering memuji Janice. Meskipun ia masih belum bisa mengendalikan emosinya. Namun di tengah pergumulan itu, Tuhan membuka matanya: bahwa kemarahannya selama ini lahir dari kekecewaan terhadap orang tuanya.
Dan justru di titik itulah ia mulai lega. Ia mulai berdoa, bukan lagi agar ia “tidak marah,” tetapi agar ia mampu mengampuni. Mampu mengasihi kedua orangtuanya. Mengetahui hal ini, ibunya sangat bersyukur dengan perubahan Janice dan lebih mengapresiasi anaknya saat ia berhasil melakukan tugasnya.
© Copyright 2024
Obor Berkat