Kolaborasi penelitian antara Universita Gadjah Mada (UGM), University of Queensland (UQ) di Australia (lead organisasi NAMHS), Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health (JHSPH) di Amerika Serikat, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes), Universitas Sumatera Utara (USU) dan Universitas Hasanuddin (Unhas) pada tahun 2022 lalu, menunjukkan sebanyak 17 juta remaja di Indonesia usia 10-17 tahun rentan memiliki masalah kesehatan mental.
Dalam surveinya I-NAMHS mengukur peningkatan 6 jenis gangguan jiwa pada remaja, yaitu :
Faktor pendukung terjadinya serangan gangguan mental ini ada beragam, yaitu perundungan, pelecehan seksual, tekanan pendidikan, hubungan antar teman atau keluarga, perilaku seksual, penggunaan narkoba, serta pengalaman masa kecil yang menyakitkan.
Persentase dari jumlah remaja yang alami gangguan mental terdiri dari, gangguan kecemasan (gabungan dari fobia sosial dan gangguan kecemasan umum) sebesar 3,7%. Gangguan depresi mayor terdapat 1,0%, gangguan perilaku sebesar 0,9% dan PTSD serta ADHD sebesar 0,5%.
Meskipun pemerintah telah meningkatkan akses terhadap berbagai fasilitas kesehatan, hanya sedikit remaja yang mencari bantuan profesional untuk masalah kesehatan mentalnya. Ini tandanya, masih banyak anak remaja yang kurang aware atau mungkin takut untuk mencari pertolongan.
Dari jumlah kasus yang ada, sampai akhir penelitian ini dilakukan, hanya 2,6% remaja yang mencari pertolongan bantuan profesional dalam 12 bulan terakhir.
Maka dari itu, bagi remaja yang sadar dan butuh bantuan untuk apa yang sedang alami, segera hubungi tenaga ahli profesional. Pahamilah Anda Tidak sendirian!
Sumber :
Detikhealth.com : 17 Juta Remaja Indonesia Memiliki Masalah Mental, Ternyata Ini Penyebabnya https://www.detik.com/sumut/berita/d-7151847/17-juta-remaja-indonesia-memiliki-masalah-mental-ternyata-ini-penyebabnya
© Copyright 2024
Obor Berkat