Natalia Sekar Triwijayanti, atau yang akrab disapa Sekar, adalah siswi kelas 5 SD yang tinggal bersama keluarganya di Semarang Timur. Anak bungsu dari tiga bersaudara ini tumbuh dalam keluarga sederhana—ayahnya bekerja sebagai tukang las karbit, dan ibunya di usaha laundry.
Sekar dikenal sebagai anak yang periang. Namun, sejak kecil, ia kerap menjadi sasaran olok-olokan karena rambut keriting dan warna kulitnya yang gelap. Tak hanya dari teman-temannya, bahkan saudara dekat pun sering menjadikannya bahan lelucon. Ejekan-ejekan itu membuat Sekar merasa sedih, minder, dan beberapa kali menangis diam-diam. Ia mulai meragukan dirinya sendiri dan memilih menjauh dari lingkungan, bahkan ketika ada acara keluarga.
Perubahan besar datang ketika Sekar mengikuti Kelas Karakter School of Life (SOL) dari JKI Citarum. Saat membahas tema “Bullying, Apa dan Mengapa”, Sekar baru menyadari bahwa ejekan yang ia alami selama ini termasuk bullying verbal. Dalam sesi lanjutan, Sekar belajar mengenali emosinya dan memahami bahwa semua orang diciptakan dengan keunikan masing-masing. Ia juga belajar tentang nilai pengampunan—bagaimana Tuhan selalu bersedia mengampuni, dan bagaimana kita bisa melakukan hal yang sama.
Sedikit demi sedikit, Sekar mulai menerima dirinya. Kini, saat ejekan datang, ia tidak lagi menangis. Ia memilih untuk memaafkan dan mengingat bahwa rambut keriting serta warna kulitnya bukanlah kekurangan, melainkan bagian dari keindahan dirinya yang istimewa.
Ibunya, Ibu Luluk, menyaksikan perubahan itu dengan penuh syukur. “Sekar sekarang lebih percaya diri. Ia tidak lagi menyembunyikan diri. Saya senang melihat anak saya bisa menerima dirinya dengan lebih baik,” ujarnya. Sekar telah membuktikan bahwa menerima diri dan memaafkan adalah langkah pertama menuju keberanian yang sesungguhnya.
© Copyright 2024
Obor Berkat