Sarah Hileri (15 tahun), seorang siswi kelas 6 di PKBM OBI Tanah Merah. Saat ia memutuskan pindah ke sekolah OBI, ia membawa kenangan pahit dari sekolah formal dulu.
Sarah pernah mengalami pengalaman traumatis saat berada di sekolah lamanya dulu, sehingga membuatnya takut bahkan saat melihat sebuah penggaris besi. Hal itu disebabkan oleh salah satu guru yang pernah memukulnya menggunakan penggaris besi sampai terluka dan meninggalkan bekas. Sarah merasa sakit hati dan sedikit trauma setelah kejadian hari itu.
Tidak hanya itu, Sarah juga selalu merasa diperlakukan berbeda oleh guru dan teman-temannya di sekolah lamanya. Dia seringkali menjadi kambing hitam dan disalahkan atas hal-hal yang tidak dia lakukan. Bahkan tidak jarang teman-temannya merendahkan Sarah seakan-akan Sarah tidak mampu melakukan apa-apa. Sarah tidak tahu mengapa ia mendapatkan perlakuan seperti ini. Namun dari apa yang telah ia alami telah membentuk Sarah menjadi pribadi yang pesimis, mudah marah dan pedendam. Karena ia masih belum bisa mengampuni guru yang pernah memukulnya saat itu.
Guru di PKBM OBI Tanah Merah merasa prihatin setelah mengetahui keadaan dan latar belakang atas sikap Sarah selama ini. Hingga akhirnya guru OBI memutuskan untuk melakukan konseling dengannya. Setelah melakukan pendekatan diri, guru OBI menanyakan alasan Sarah tidak bisa mengampuni guru yang saat itu memukulnya.
“Kalau di dalam mulut aku mengatakan bahwa aku mengampuninya, tetapi di dalam hatiku, itu sangat sulit. Rasa sakitnya masih membekas di dalam hatiku, sehingga ketika aku berpapasan dengan guru tersebut, aku tidak mau menegurnya sama sekali,” tutur Sarah pedih.
Melihat bagaimana Sarah kesulitan Sarah untuk memaafkan guru tersebut dan membuatnya menjadi anak yang pesimis.Guru OBI memutuskan untuk menayangkan sebuah video motivasi yang bertemakan pengampunan. Sejak menyaksikan tayangan tersebut, kami bertanya pada Sarah bagaimana dia memaknai dan pemahaman seperti apa yang bisa dia terapkan dari video tersebut. Sarah pun menjawab kalau ia mulai memahami bahwa ketika ia tidak bisa mengampuni orang lain, itu hanya akan membuat dirinya tersiksa lebih lama. Itulah mengapa ia harus mengampuni siapapun yang menyakiti kita.
Setelah beberapa pekan terlewati, guru OBI melanjutkan kembali konseling dengan Sarah. Ia merenungkan kembali rasa sakit yang selama ini ia pendam. Akhirnya, dia memutuskan untuk melepaskan perasaan negatif itu dan memberikan pengampunan kepada guru tersebut. Setelah itu guru OBI menuntun Sarah untuk berdoa agar hatinya dipulihkan. Setelah kami menuntunnya berdoa, kami menanyakan perasaannya dan dia mengatakan bahwa “saya merasa lega, damai dan sudah tidak ada perasaan benci lagi.”
Perlahan, beban di hati Sarah mulai berkurang. Rasa sakit dan kemarahan yang selama ini dia rasakan perlahan-lahan menghilang, digantikan oleh kedamaian dan kelegaan. Yang paling mengesankan adalah bahwa Sarah tidak lagi merasa takut saat melihat penggaris besi. Hal ini dibuktikkan secara langsung oleh guru OBI dengan membawa penggaris besi ke hadapannya dan raut wajah Sarah menunjukkan ketenangan, tidak ada lagi ekspresi ketakutan disana.
Dari apa yang dialami oleh Sarah, kita bisa belajar tentang kekuatan pengampunan, pembebasan dari trauma yang membawa perubahan positif bagi seseorang. Selain itu, kita dapat mengerti bahwa mengampuni bukan hanya untuk orang lain, tetapi juga untuk diri sendiri, seperti yang Sarah lakukan. Sehingga dapat menerima kelegaan hati.
© Copyright 2024
Obor Berkat