Bencana banjir bandang yang melanda sebagian wilayah Sumatera Utara pada akhir tahun lalu masih menyisakan luka traumatis bagi anak-anak di sana. Kegiatan pembelajaran sempat terhenti, lalu baru dapat dilanjutkan kembali beberapa waktu kemudian di sekolah darurat yang panas dan pengap.

Sejak awal masa tanggap darurat, Obor Berkat Indonesia turut terlibat dalam proses pemulihan di sejumlah daerah terdampak, dan menyaksikan secara langsung bagaimana kondisi ruang belajar sementara tersebut membuat anak-anak sulit berkonsentrasi saat mengikuti pelajaran.
Merespons kondisi tersebut, Obor Berkat Indonesia (OBI) melakukan assessment bersama pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lokal, lalu menetapkan dua lokasi prioritas pembangunan sekolah sementara sebagai bagian dari pendekatan Child Protection in Humanitarian Action (CPHA).
Salah satunya berada di SD Negeri Alur Jambu, Kabupaten Aceh Tamiang. Sekolah ini melayani 117 siswa dengan dukungan 14 guru dalam enam rombongan belajar. Pascabencana, kegiatan belajar sempat berlangsung di area pengungsian, sementara pembangunan sekolah permanen diperkirakan membutuhkan waktu sekitar 18 bulan. Karena itu, sekolah sementara dibangun di kawasan hunian sementara dengan tiga ruang belajar yang aman agar anak-anak tetap dapat mengikuti pembelajaran secara teratur selama masa pemulihan. Bangunan sekolah sementara ini kemudian diresmikan oleh Ketua Yayasan Obor Berkat Indonesia, Sandi Baratha, pada Senin, 20 April 2026.

Sekolah sementara lainnya dibangun di SD Negeri Pagaran Honas, Kabupaten Tapanuli Tengah, yang melayani 103 siswa dari enam rombongan belajar. Wilayah ini terdampak longsor dan berada di zona berisiko, sehingga proses belajar sebelumnya juga dilakukan di tenda darurat. Pemilihan lokasi sekolah sementara dilakukan berdasarkan tingkat kerusakan yang parah, akses yang sulit, dan minimnya bantuan, dengan fokus pada perlindungan anak.

Sekolah sementara ini tidak hanya menjadi ruang belajar, tetapi juga ruang aman bagi anak-anak untuk memulihkan rutinitas, membangun kembali rasa percaya diri, serta menerima dukungan psikososial melalui pendekatan Social Emotional Learning.
Meski distribusi material menjadi tantangan utama dalam proses pembanguanan ini, kerjasama guru, komiten sekolah, dinas pendidikan dan masyarakat membuat prosesnya jadi lebih mudah. Sekolah dirancang ramah anak, dilengkapi fasilitas belajar, tas siaga bencana dan materi kesiapsiagaan bencana. Bahkan ruang kelas ini dapat dimanfaatkan oleh warga sekitar untuk balai warga sementara.
Monitoring rutin dilakukan bersama pemerintah daerah untuk memastikan keberlanjutan program. Dampaknya terlihat dari kehadiran siswa meningkat dari 30–60 persen menjadi 90–100 persen. Dengan ini fokus utama Obor Berkat Indonesia untuk menjaga pendidikan tetap berjalan selama pemulihan sudah mulai berjalan.
© Copyright 2024
Obor Berkat