Aldo, salah satu anak didik PAUD Super5 Holy Kids Pringsewu, Lampung pernah kesulitan mengenali dan menyampaikan emosinya. Ketika merasa kecewa saat bermain, ia tidak selalu mampu menjelaskan apa yang dirasakan. Emosi yang tertahan terkadang muncul dalam bentuk tangisan, gerakan kasar, atau kemarahan kepada teman.
Suatu hari, Aldo menendang salah satu temannya. Ketika guru bertanya mengenai kejadian tersebut, ia hanya terdiam dan menangis. Respons itu membuat para guru menyadari bahwa Aldo tidak sekadar membutuhkan teguran, tetapi juga pendampingan emosi yang lebih dekat.
Ibu Susi, guru Aldo kemudian berdiskusi dengan ibu Aldo untuk memahami kesehariannya di rumah. Dari percakapan tersebut, guru mengetahui bahwa Aldo sedang menghadapi perubahan dalam keluarganya. Kedua orang tuanya tidak lagi tinggal bersama, sementara sang ibu harus bekerja dari pagi hingga sore.
Pada beberapa kegiatan sekolah, Aldo juga menunjukkan kerinduan untuk didampingi oleh kedua orang tuanya seperti teman-temannya. Pemahaman ini mengubah cara guru memandang perilakunya. Mereka mulai melihat bahwa di balik kemarahan Aldo terdapat perasaan yang belum mampu ia sampaikan melalui kata-kata.
Guru Susi mendampingi Aldo melalui percakapan pribadi setelah kegiatan belajar. Saat menunggu dijemput, Aldo diajak berbicara mengenai perasaannya, keluarganya, dan kasih Tuhan dalam hidupnya. Ketika Aldo marah atau menangis, guru memberinya waktu untuk tenang sebelum memberikan pengertian dengan bahasa yang lembut.
Pendampingan tersebut dilakukan secara konsisten selama hampir satu semester. Aldo juga belajar menunggu giliran, berbagi mainan, mengucapkan kata-kata yang baik, dan mengekspresikan perasaannya tanpa melukai orang lain.
Perlahan, luapan emosi Aldo mulai berkurang. Ia semakin mampu menerima arahan dan berinteraksi dengan lebih tenang. Perubahan itu tidak hanya terlihat di sekolah, tetapi juga dirasakan oleh ibunya di rumah.
“Ibu, saya tidak salah memilih sekolah. Anak saya mengalami banyak sekali perubahan,” ungkap ibu Aldo kepada Guru Susi.
Kini, Aldo lebih aktif menceritakan kegiatan sekolah tanpa harus ditanya. Ia juga terbiasa mengucapkan selamat makan, berdoa sebelum makan dan tidur, serta menggunakan bahasa yang lebih lembut.
Kepeduliannya kepada teman pun mulai bertumbuh. Ketika ditanya apakah ia bersedia meminjamkan mainan, Aldo menjawab, “Mau,” karena temannya juga sering membantunya saat bermain LEGO.
Perjalanan Aldo menunjukkan bahwa perilaku anak sering kali menyimpan perasaan yang belum dapat mereka ungkapkan. Melalui kesabaran, komunikasi dengan keluarga, dan pendampingan yang konsisten, anak dapat belajar mengenali emosi serta membangun hubungan yang lebih baik dengan orang-orang di sekitarnya.
© Copyright 2024
Obor Berkat