Keterlambatan perkembangan bahasa atau speech delay membuat Eldred kesulitan menyampaikan keinginan dan memahami orang-orang di sekitarnya. Ketika kata-kata belum mampu mewakili perasaannya, ia kerap mengekspresikan frustrasi melalui tangisan, teriakan, dan luapan emosi.
Namun, pendampingan penuh kasih dari keluarga serta dukungan para guru di PAUD Permata perlahan membawa perubahan. Eldred mulai menemukan cara untuk berkomunikasi, mengelola emosi, dan menunjukkan kepedulian kepada orang lain.
Perkembangan Eldred berjalan lebih lambat dibandingkan anak-anak seusianya. Ia terlambat berjalan dan tidak melalui fase merangkak. Dalam perkembangan bahasanya, Eldred juga mengalami kesulitan memahami dan menggunakan bahasa untuk berkomunikasi sehari-hari.
Pada masa awal pertumbuhannya, Eldred cukup sering menonton tayangan berbahasa Inggris. Namun, interaksi dua arah yang ia dapatkan masih terbatas. Kondisi tersebut membuatnya kesulitan mengungkapkan keinginan dan memahami bahasa yang digunakan di rumah.
Rasa frustrasi yang tidak dapat disampaikan melalui kata-kata terkadang muncul dalam bentuk luapan emosi. Eldred pernah membantingkan tubuh, berteriak, hingga menyakiti dirinya sendiri. Ia juga menunjukkan sensitivitas terhadap tekstur tertentu, seperti menolak makanan bertekstur, menghindari jalanan basah, dan enggan memegang pensil.
Melihat berbagai tantangan yang dihadapi putranya, Indri, ibu Eldred, menyadari bahwa anaknya membutuhkan pendampingan yang lebih intensif. Setelah bekerja di sebuah bank selama 11 tahun, Indri memutuskan berhenti bekerja agar dapat mendampingi Eldred secara penuh.
Babak baru dimulai ketika Eldred bergabung dengan PAUD Permata. Saat pertama kali datang, berinteraksi dengan anak-anak lain masih menjadi tantangan besar baginya. Ia lebih sering menarik diri dan menangis ketika menghadapi situasi yang membuatnya tidak nyaman.
Para guru tidak memaksanya untuk segera mengikuti seluruh kegiatan. Mereka memberikan waktu kepada Eldred untuk menenangkan diri sebelum mengajaknya berkomunikasi.
“Saat awal masuk, memegang pensil itu seperti ‘musuh bebuyutan’ baginya. Dia juga sering menangis. Namun, kami membiarkannya menumpahkan emosi sampai tenang terlebih dahulu sebelum diajak berkomunikasi,” cerita Kak Yestri, salah satu guru yang mendampinginya.
Untuk membantu perkembangan motorik halusnya, Kak Yestri memberikan pendampingan personal. Ketika anak-anak lain bermain, ia menemani Eldred berlatih menggunakan tangannya melalui kegiatan sederhana di sudut ruangan.
Pendekatan yang sabar dan konsisten membantu Eldred merasa lebih aman. Perlahan, ia mulai bersedia memegang pensil, mengikuti kegiatan, dan berada bersama teman-temannya.
Perkembangan Eldred juga terlihat dalam kehidupan rohaninya. Melalui kegiatan belajar dan pengajaran nilai-nilai Kristiani di sekolah, ia mulai berani terlibat dalam doa bersama.
Salah satu momen yang paling berkesan terjadi ketika anak-anak mendengarkan kisah Yusuf yang memilih mengampuni saudara-saudaranya. Eldred, yang sebelumnya sering menolak ketika diajak berdoa, tiba-tiba mengangkat tangannya.
“Saya! Eldred!” serunya.
Hari itu, ia memimpin doa menggunakan kalimatnya sendiri tanpa perlu dituntun. Kini, Eldred senang mendengarkan cerita tentang kasih Tuhan Yesus dan mampu menghafalkan ayat dari 1 Yohanes 3:1.
Memasuki tahun keduanya di PAUD Permata, perubahan Eldred semakin terlihat. Luapan emosinya jauh berkurang, kemampuan motorik tangannya berkembang, dan ia semakin berani berinteraksi dengan orang lain.
Perubahan yang paling menyentuh terlihat ketika seorang temannya jatuh atau menangis. Eldred yang dahulu hanya memperhatikan dari kejauhan kini segera menghampiri dan memeluk temannya.
“Are you okay? Tidak apa-apa, jangan menangis,” ucapnya untuk menenangkan.
Di rumah, Eldred juga semakin berani berkomunikasi dan mengambil peran untuk memimpin doa keluarga setiap malam. Bagi Indri, setiap kemajuan tersebut menjadi sukacita yang tidak ternilai.
Perjalanan Eldred menunjukkan bahwa perkembangan setiap anak memiliki waktu dan proses yang berbeda. Melalui kehadiran orang tua, kesabaran guru, lingkungan yang mendukung, serta pendampingan yang konsisten, anak dapat memperoleh ruang yang aman untuk belajar dan bertumbuh.
Setiap kemajuan mungkin terlihat kecil bagi orang lain. Namun, bagi anak dan keluarga yang menjalaninya, satu kata, satu keberanian, dan satu pelukan dapat menjadi perubahan yang sangat berarti.
© Copyright 2024
Obor Berkat