Kurangnya kesadaran orang tua di NTT akan gizi anak adalah salah satu faktor penyebab angka stunting yang tinggi di wilayah ini. Selain itu, kondisi ekonomi yang sulit juga jadi salah satu alasannya. Seperti yang terjadi di PAUD Sion Sasi, menurut gurunya
Bagi Imanuel Kolo, anak berusia 5 tahun, sayur dulunya adalah “musuh” di piring makan. Ia hanya mau makan telur dan sedikit daun ubi. Sayuran lain selalu ditolak, meskipun orang tuanya sudah membujuk dengan berbagai cara. Seperti banyak anak lainnya di PAUD Sion Sasi, ia belum paham mengapa makan sehat itu penting.
Hidup mulai berubah ketika sekolahnya menerima program Garden for School dari Obor Berkat Indonesia (OBI). Bantuan berupa ayam petelur dan bibit sayuran membuat sekolah ini memiliki kebun sendiri. Anak-anak pun belajar langsung dari alam — menanam, menyiram, memberi makan ayam, hingga memanen.
Awalnya, Imanuel hanya menganggap kegiatan itu sebagai permainan. Namun, saat panen pertama tiba dan hasilnya dibagikan untuk dibawa pulang, terjadi hal tak terduga. Sayuran yang ia tanam sendiri terasa istimewa. Ia meminta ibunya memasaknya, lalu memakannya dengan senang hati. Rasa bangga membuatnya berani mencoba hal yang dulu ditolak.
Ibu Astri, pengelola PAUD Sion Sasi, menceritakan bahwa banyak anak di sekolah ini berasal dari keluarga petani dengan keterbatasan ekonomi. Sebelumnya, sebagian besar anak hanya membawa nasi kosong, nasi dengan garam, atau mie instan sebagai bekal. Kesadaran orang tua tentang gizi pun masih rendah. Namun, sejak ada kebun sekolah, perlahan mulai ada perubahan.
“Kami ajak anak-anak masak bersama hasil panen. Kalau ada yang bawa mie instan, kami ganti dengan sayur dari kebun. Lama-lama mereka terbiasa. Sekarang mie instan sudah jarang sekali dibawa,” ujar Ibu Astri.
Kebun ini juga menjadi sumber belajar yang menyenangkan. Setiap Jumat, setelah olahraga, anak-anak diajak melihat ayam, memetik sayur, dan belajar tentang pentingnya menjaga kesehatan. Mereka juga belajar berbagi, karena lauk hasil kebun sering dimakan bersama di sekolah.
Bagi para guru, program ini adalah anugerah. “Kami sangat bersyukur. Anak-anak jadi lebih sehat, semangat belajar, dan punya kebiasaan makan bergizi,” kata Ibu Astri.
Dari kebun kecil di halaman sekolah, Imanuel dan teman-temannya belajar hal besar: menghargai makanan, menjaga kesehatan, dan mensyukuri berkat Tuhan. Perubahan yang berawal dari sebatang sayur ini kini tumbuh menjadi gaya hidup yang lebih baik untuk seluruh sekolah.
© Copyright 2024
Obor Berkat