Tidak semua anak langsung paham mana yang boleh diambil dan mana yang bukan miliknya. Kadang, ada keinginan yang terasa begitu kuat, sampai sulit dikendalikan. Itulah yang pernah dialami Doni Sahputra Harefa (9 tahun), salah satu anak didik sanggar belajar School of Life BNKP Jemaat Laowi – Nias Selatan.
Doni tumbuh besar bersama nenek dan dua kakaknya di sebuah desa kecil di Nias Selatan. Sementara itu, kedua orang tuanya bekerja jauh di Berastagi demi memenuhi kebutuhan keluarga. Meski tinggal terpisah dari orang tuanya, Doni dikenal sebagai anak yang rajin membantu dan penurut ketika di rumah.
Namun suatu hari, sebuah kejadian membuka pintu perubahan besar dalam hidupnya. Karena keinginannya untuk membeli jajanan, Doni mengambil uang neneknya sebesar Rp50.000 dari dompet tanpa izin. Saat perbuatannya diketahui, Doni menangis tersedu-sedu dan bahkan sempat mogok makan karena takut dan menyesali tindakannya.
Kabar ini kemudian sampai ke tutor School of Life. Kejadian ini kemudian didengar oleh tutor School of Life. Doni pun dipanggil dan diberi nasihat. Ia mengaku bahwa ketika meminta uang kepada neneknya, ia biasanya hanya diberi Rp1.000 atau Rp2.000, yang menurutnya tidak cukup untuk membeli jajanan yang ia inginkan. Beberapa temannya memberikan pernyataan, bahwa hal ini bukan pertama kali ia lakukan. Saat itu, Doni kembali diingatkan bahwa tindakannya salah dan tidak sesuai dengan firman Tuhan.
Masih di momen yang sama, tutor mengingatkannya kembali tentang pelajaran Pribadi yang Bertanggung Jawab dari School of Life bahwa setiap tindakan membawa konsekuensi, dan mencuri adalah perbuatan yang tidak sesuai dengan firman Tuhan.
“Karena kita harus bertanggung jawab atas apa yang kita perbuat,” ucap Doni saat kami konfirmasi. Ia mulai menyadari bahwa kemarahan neneknya merupakan salah satu konsekuensi yang harus ia terima dari tindakannya.
Sejak momen itu, perubahan Doni mulai terlihat. Ia tidak lagi mengambil uang tanpa izin. Jika ia meminta uang jajan dan nenek tidak memberi, ia memilih untuk menunggu dengan sabar. Bahkan neneknya bercerita dengan bangga, “Sekarang kalau ada uang terletak di atas meja, Doni akan tanya dulu itu uang siapa dan tidak mengambilnya.”
Perubahan ini mungkin terlihat kecil, tetapi memiliki dampak yang sangat berarti. Tindakan yang ia ulangi sebelumnya dikhawatirkan bisa berkembang menjadi kebiasaan yang sulit dihentikan. Namun, ketika seorang anak melakukan kesalahan, bukan berarti perasaannya harus diabaikan. Tugas pendidik adalah terus membimbing, mendampingi, dan menolong anak agar dapat keluar dari pola kebiasaan yang salah tersebut.
© Copyright 2024
Obor Berkat