Mengentaskan Kelaparan di Komunitas Karisin, NTT

Mengentaskan Kelaparan di Komunitas Karisin, NTT

Demi mengentaskan kelaparan di komunitas Karisin, Kec. Amabi Oefeto, Kab. Kupang, OBI akan memberikan bantuan pertanian cabai. Kami awali dengan memberikannya pada 4 rumah tangga (17 Penerima Manfaat).

Dukungan Pertanian untuk 4 Keluarga Penerima Manfaat

OBI akan menolong mereka dengan memberikan modal awal berupa peralatan dan bahan untuk pertanian cabai. Selain itu, empat keluarga ini juga akan menerima pelatihan pertanian dari OBI. Sehingga pertanian ini akan berkelanjutan dan dapat memenuhi kebutuhan keluarga mereka.

Keseharian dari empat keluarga ini sangat sederhana. Mereka masih menggunakan sistem barter untuk memenuhi kebutuhan pangan keluarga mereka. Biasanya hasil pertanian mereka akan ditukarkan dengan beras atau makanan lainnya. Bahkan, tidak jarang hasil pertanian mereka hasil pertaniannya disumbangkan ke gereja.

Makanan pokok mereka adalah bubur, sayuran, dan telur. Sedangkan untuk makanan olahan seperti tahu, tempe dan daging, mereka harus pergi ke pasar. Di mana jarak dari tempat mereka tinggal ke pasar mencapai satu jam perjalanan. Dan makanan ini biasanya bisa mereka beli setelah menjual hasil pertanian mereka.

Profil 4 Keluarga Penerima Manfaat Komunitas Karisin NTT

4 Keluarga yang akan ditolong adalah :
Yusak Asanaf (42) adalah seorang petani dan bekerja sebagai penjaga gereja (Koster). Ia memiliki dua orang anak yang mengikuti layanan pendidikan Cahaya Bagi Negeri (CBN) sanggar belajar School of Life (SOL).

Dari pekerjaannya di gereja, Yusak hanya memperoleh penghasilan Rp 150.000. Dibantu istrinya Yusak juga bekerja sebagai buruh tani jagung, berbagi hasil dengan pemilik lahan, dengan penghasilan antara Rp. 1.000.000 – Rp. 1.500.000 per panen tiga bulan.

Ia sendiri sebenarnya memiliki lahan seluas 700 meter persegi yang ia tanami dgn terong di sebagian kecil lahannya. Hasil panennya hanya cukup untuk makan keluarganya dan belum cukup untuk dijual. Penghasilan rata-rata per bulannya adalah Rp 700.000.

Kemudian Ayub Benu (63) adalah orang tua tunggal dengan dua orang anak. Anak pertamanya masih kuliah mendapatkan beasiswa sekaligus bekerja sebagai guru di sanggar belajar SOL. Anak keduanya bergabung di SOL.

Ayub memiliki lahan seluas 1.000 meter persegi, di mana ia menanam buncis, menjual 70-80 kg setiap minggu dengan harga Rp4.000 per kg. Selain itu, ia juga bekerja sebagai buruh tani di ladang orang ketika dibutuhkan. Penghasilan rata-rata bulanannya adalah Rp 1.200.000,-, dengan tambahan Rp 400.000,- per bulan dari pekerjaan anaknya sebagai guru SOL.


Lalu Gustaf Beis (39) memiliki dua orang anak; anak sulungnya mengikuti program SOL dan anak bungsunya masih duduk di bangku PAUD. Ia memiliki lahan seluas 800 meter persegi, dengan 200 meter persegi digunakan untuk menanam jagung.

Ia juga menanam terong, dengan penghasilan antara Rp300.000 hingga Rp500.000 per bulan. Selain bertani, Gustaf bekerja sebagai buruh dengan penghasilan rata-rata Rp. 1.000.000 per bulan. Istrinya, yang merupakan seorang guru PAUD, menambah penghasilan keluarga sebesar Rp 400.000 per bulan.


Terakhir adalah Nicodemus Bois (66) memiliki satu orang anak yang merupakan seorang guru SOL. Dia juga membesarkan tiga keponakan, yang semuanya adalah anggota SOL. Salah satu orang tua keponakannya meninggal dunia karena TBC, dan dua keponakan lainnya memiliki orang tua yang bekerja di luar negeri.

Nicodemus memiliki lahan seluas 1.500 meter persegi, dengan 500 meter persegi didedikasikan untuk menanam cabai. Ia memanen sekitar 10 kg cabai setiap minggunya dan menjualnya dengan harga Rp25.000 per kg. Penghasilan rata-rata per bulannya adalah Rp 1.000.000, dengan tambahan Rp 400.000 yang berasal dari pekerjaan mengajar SOL anaknya.

Masing-masing keluarga ini memiliki lahan ladang yang cukup luas, namun belum dimanfaatkan secara optimal. Bercocok tanam mereka lakukan hanya sebagai kegiatan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari daripada sebagai bisnis.

Pelatihan dan Dukungan Berkelanjutan dari OBI

Saat ini tanaman cabai hanya ditanam saja tanpa perawatan pupuk yang memadai, sehingga hasilnya juga tidak maksimal. Maka dari itu, OBI memberikan pengetahuan yang tepat tentang cara bercocok tanam dan jenis tanaman yang cocok untuk lahan mereka. Dengan harapan bantuan ini dapat sangat membantu meningkatkan perekonomian keluarga mereka.

Meskipun kurang pengalaman dan pendidikan formal, kondisi tanah yang baik untuk pertanian cabai menawarkan potensi besar, mengingat mayoritas dari mereka sehari-harinya adalah bekerja sebagai petani.

Melalui intervensi OBI berupa bantuan bibit, pupuk, dan alat pertanian modern, kami berharap dapat membantu dan meningkatkan produksi pangan mereka. Selain itu, program ini juga mencakup pelatihan pembukuan dan pendampingan untuk memastikan mereka mencapai target yang telah ditetapkan.

Mari ulurkan tangan Anda untuk menolong 4 keluarga ini keluar dari kesulitan yang mereka hadapi. Dengan cara berdonasi di bawah ini. Karena dukungan Anda tidak hanya akan memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari, tetapi juga membuka peluang bagi masa depan yang lebih baik.

Share berita baik ini yuk!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *