Kisah Soni, Anak PAUD yang Belajar Menghargai Sesama

Kisah Soni, Anak PAUD yang Belajar Menghargai Sesama

Setiap anak datang ke ruang kelas dengan latar belakang karakter yang beragam. Ada anak yang ceria, ada yang penasaran dengan banyak hal, dan ada pula yang memilih untuk diam. Dalam proses belajar ini, setiap anak tetap membutuhkan bimbingan untuk membentuk sikap yang baik. Seperti Simsoni Sakan, atau yang akrab disapa Soni, seorang anak PAUD Betel Tumu yang berusia 5 tahun.

Ia merupakan anak bungsu dari empat bersaudara dan satu-satunya anak laki-laki dalam keluarganya. Sejak kecil, Soni tumbuh dalam kasih sayang keluarga yang begitu besar. Namun, tanpa disadari, perhatian berlebih itu membentuk sikap manja dan keras kepala. Di kelas, kebiasaan ini terlihat dari caranya berinteraksi, ia sering memaksakan kehendak dan kurang peduli pada perasaan teman-temannya.

Para guru di PAUD Betel Tumu menyadari hal tersebut. Teguran dan nasihat sudah sering diberikan, namun Soni belum siap mendengarkan. Ia tetap bersikap seperti biasa. Alih-alih menyerah, para guru memilih jalan yang lebih panjang: kesabaran, ketekunan, dan doa. Setiap hari, Soni didampingi dengan pendekatan yang konsisten melalui pembelajaran karakter, termasuk materi Super5 Topik 2 tentang “Aksiku di Sekolah”. Materi ini menekankan nilai mengasihi, berbagi, serta kebiasaan mengucapkan empat kata ajaib: tolong, maaf, terima kasih, dan permisi.

Perlahan tapi pasti, perubahan itu mulai terlihat. Soni tak lagi memaksa teman-temannya mengikuti kemauannya. Ia mulai berkata “tolong” saat mengajak bermain, “permisi” ketika melewati meja teman, dan “maaf” saat melakukan kesalahan. Ia juga menjadi anak yang lebih mau mendengarkan dan menghargai orang lain.

Lebih dari sekadar perubahan sikap, Soni memiliki alasan sederhana yang menyentuh hati. Ia ingin menyenangkan hati Tuhan. Ia tidak ingin membuat Tuhan sedih dengan sikap yang tidak menghargai sesama. Dari sana, tumbuh kesadaran kecil yang berdampak besar.

Kisah Soni adalah satu dari banyak cerita perubahan yang terus bertumbuh. Bersama dukungan yang ada, lebih banyak anak dapat belajar menghargai, mengasihi, dan membangun karakter yang akan mereka bawa hingga dewasa.

Share berita baik ini yuk!