Kisah Perjuangan Air Bersih di Jantung Desa Adat Bawömataluo

Desa Bawömataluo di Kecamatan Fanayama, Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara, bukan sekadar permukiman biasa. Nama yang secara harfiah berarti “Bukit Matahari” ini merupakan salah satu benteng terakhir kebudayaan Megalitikum yang masih hidup dan terjaga utuh di Kepulauan Nias.

Dikenal dengan tradisi lompat batu (fahombo), rumah adat tradisional berukuran besar (omo hada), serta tata ruang desa di atas bukit batu yang megah, Bawomataluo telah menarik perhatian dunia internasional dan masuk dalam daftar Situs Warisan Dunia UNESCO secara tentatif.

Namun, di balik pesona budaya dan kemegahan arsitektur masa lampau yang disuguhkannya, desa yang berada di ketinggian sekitar 300 hingga 400 meter di atas permukaan laut (dpl) ini masih menghadapi tantangan yang sangat krusial, yaitu sulitnya akses air bersih.

Berada di atas bukit membuat desa yang dihuni oleh ratusan kepala keluarga ini tidak memiliki sumur bor atau sumber air tanah yang layak. Warga desa mengandalkan aliran air pegunungan yang ditampung di dalam bak-bak penampungan besar untuk memenuhi kebutuhan harian keluarga. Sementara itu, pada musim tertentu atau saat debit air menurun, pemandangan anak-anak dan warga yang membawa jerigen atau ember untuk mendapatkan pasokan air bersih menjadi hal yang lumrah dijumpai.

Menyadari pentingnya air bersih—tidak hanya untuk kesehatan masyarakat tetapi juga untuk menunjang status desa sebagai destinasi pariwisata dunia—berbagai pihak terus berupaya mencari solusi berkelanjutan, salah satunya Obor Berkat Indonesia.

OBI berencana akan membangun Saluran pipa air bersih sepanjang 3 KM yang akan menghubungkan sumber mata air ke daerah pemukiman warga. Namun prosesnya sangat panjang dan membutuhkan banyak biaya untuk bisa membuat proyek ini berhasil. Kami butuh Anda untuk bergerak bersama kami.

Donasi Sekarang!

Share berita baik ini yuk!