Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan hanya meninggalkan lahan yang hangus. Asap yang menyebar ke berbagai wilayah juga membawa polutan yang dapat memengaruhi kualitas udara dan kesehatan masyarakat.
Hal inilah yang dibahas dalam webinar: Dampak Kebakaran Hutan Lahan bagi Kesehatan dan Penanganannya yang diselenggarakan oleh Obor Berkat Indonesia (OBI) dengan Ramoti Manalu dari BPBD Kabupaten Landak dan dokter spesialis paru dr. Kms. Rakhmat Notariza, Sp.P sebagai pembicara.
Dalam pemaparannya, Ramoti menjelaskan bahwa kondisi kemarau panjang dapat meningkatkan risiko munculnya titik panas atau hotspot. Risiko tersebut menjadi semakin besar pada wilayah dengan lahan gambut. Berbeda dengan kebakaran di permukaan, api pada lahan gambut dapat merambat di bawah tanah sehingga tidak selalu terlihat dari luar. Kondisi ini membuat proses pemadaman menjadi jauh lebih sulit dan membutuhkan sumber daya yang besar.
Karena itu, BPBD Kabupaten Landak melakukan berbagai langkah mitigasi, mulai dari memperkuat kesiapsiagaan, mengaktifkan posko dan piket, melakukan patroli, memantau titik panas melalui data satelit, hingga melakukan verifikasi langsung di lapangan. Pemadaman sejak api masih berskala kecil juga menjadi langkah penting agar kebakaran tidak meluas.
Namun, persoalan karhutla tidak berhenti ketika api berhasil dipadamkan. Asap yang dihasilkan dapat membawa dampak serius bagi kesehatan.
Menurut dr. Rakhmat, asap karhutla merupakan campuran berbagai gas dan partikel, seperti karbon monoksida, nitrogen dioksida, ozon, hidrokarbon, serta partikulat PM10 dan PM2.5.
PM2.5 menjadi salah satu polutan yang perlu mendapat perhatian karena ukurannya sangat kecil. Partikel ini dapat masuk hingga ke bagian terdalam paru-paru, tempat pertukaran oksigen berlangsung. Bahkan, partikel yang sangat kecil dapat masuk ke pembuluh darah dan berdampak pada organ tubuh lainnya.
Tidak semua orang memiliki tingkat risiko yang sama. Anak-anak menjadi kelompok rentan karena paru-parunya masih berkembang. Lansia, penderita asma atau gangguan pernapasan, penderita penyakit jantung, serta perokok juga perlu lebih berhati-hati ketika kualitas udara memburuk.
Dalam jangka pendek, paparan asap dapat menimbulkan iritasi pada mata, hidung, dan tenggorokan. Keluhan lain yang mungkin muncul antara lain batuk, sesak napas, produksi dahak meningkat, hingga rasa tidak nyaman atau nyeri pada dada.
Jika paparan terjadi berulang atau dalam waktu panjang, dampaknya dapat menjadi lebih serius, termasuk memperburuk penyakit pernapasan kronis dan memengaruhi fungsi paru.
Masyarakat dapat melakukan beberapa langkah sederhana untuk mengurangi risiko paparan asap karhutla.
Pertama, pantau kualitas udara melalui informasi ISPU atau sumber informasi kualitas udara yang tersedia. Ketika kualitas udara berada dalam kategori tidak sehat, kurangi aktivitas di luar ruangan, terutama aktivitas fisik berat.
Kedua, hindari menambah sumber polusi lain, seperti membakar sampah atau merokok di dalam ruangan.
Ketiga, jika harus beraktivitas di luar ketika kualitas udara buruk, gunakan masker atau respirator dengan kemampuan penyaringan yang baik, seperti N95 atau yang setara, dan pastikan terpasang dengan rapat pada wajah. Saat bepergian menggunakan mobil, jendela dapat ditutup dan AC diatur pada mode sirkulasi ulang (recirculate) untuk mengurangi masuknya udara dari luar.
Terakhir, kenali tanda-tanda kondisi kesehatan yang memburuk. Jika sesak napas atau keluhan pernapasan semakin berat, segera mencari pertolongan medis.
Karhutla memang terlihat sebagai persoalan api dan lahan. Namun dampaknya dapat menjangkau jauh lebih luas—mulai dari kerusakan lingkungan, terganggunya aktivitas masyarakat, hingga kesehatan manusia.
Karena itu, pencegahan karhutla dan perlindungan dari paparan asap membutuhkan peran bersama. Dengan memahami risikonya dan mengetahui langkah yang tepat, masyarakat dapat lebih siap melindungi diri dan keluarga ketika kualitas udara memburuk.
© Copyright 2024
Obor Berkat