Imannuel Jadson, seorang anak berusia 13 tahun dari Boja, Kabupaten Kendal, baru saja melangkah ke babak baru dalam hidupnya. Setelah lulus dari SD, ia diterima di SMP 1 Boja, sekolah yang selama ini ia impikan. Namun, perjalanan barunya tidak lepas dari tantangan.
Di sekolahnya yang baru, Jadson mendapati kenyataan bahwa hanya ada delapan murid Kristen. Ketika harus memilih kelas ekstrakurikuler, ia merasa bingung. Banyak kelas yang menarik, tetapi sebagian besar diadakan pada hari Minggu, waktu di mana Jadson seharusnya beribadah bersama keluarganya di gereja. Keinginannya untuk mencoba kegiatan baru sempat membuatnya kecewa dan marah kepada orangtuanya yang mengingatkan agar tidak meninggalkan ibadah Minggu.
Melalui program School of Life (SOL) di GBI Segrumung, Boja yang dijalankan Obor Berkat Indonesia, Jadson mendapat pelajaran berharga. Pada kelas pengembangan karakter dengan tema Aku dan Lingkunganku, ia belajar pentingnya menghormati orangtua dan menjaga hubungan baik dengan keluarga. Dari kelas pemuridan, Jadson juga terinspirasi oleh kisah Yohanes Pembaptis yang berani mengambil resiko demi imannya kepada Tuhan.
Pelajaran itu meneguhkan hatinya. Jadson akhirnya memilih ekstrakurikuler yang tidak berbenturan dengan ibadah. Saat diajak teman untuk ikut kelas Minggu, ia berani menolak dengan tegas sambil berkata, “Aku ora iso nek dino Minggu, aku wong Kristen nek Minggu yo neng grejo karo bapak ibuku” (saya tidak bisa ikut kelas Minggu, karena saya Kristen jadi setiap Minggu saya ke gereja bersama orangtua saya).
Keputusan ini membuat Jadson semakin mantap dalam imannya. Ia tidak hanya belajar untuk taat kepada Tuhan, tetapi juga menghormati orangtuanya dengan pilihan yang bijak.
Kisah Jadson dari SOL GBI Segrumung, Boja adalah bukti nyata bahwa melalui pendampingan, anak-anak bisa dikuatkan untuk berani berdiri teguh dalam iman mereka, meski harus menghadapi tekanan dari lingkungan sekitar.
© Copyright 2024
Obor Berkat