Ada anak yang membutuhkan waktu lebih lama untuk merasa aman di tengah orang lain. Intan Septiasari adalah salah satunya. Namun ketika ia berada di lingkungan yang mau menerima dan mendampinginya, keberanian itu perlahan mulai tumbuh.
Intan adalah anak berusia 12 tahun dari Semarang, Jawa Tengah yang memiliki hambatan dalam berbicara dan belajar. Ia dikenal sebagai anak yang pemalu dan tidak mudah percaya diri. Pengalaman kurang menyenangkan dari teman-teman sebelumnya membuat Intan semakin berhati-hati saat bertemu orang baru. Padahal, seperti anak-anak lain, Intan juga ingin bermain, belajar, dan memiliki teman.
Harapan itu mulai terbuka saat Intan mengikuti kegiatan School of Life di Gereja GIA Perbalan, Kota Semarang. Saat pertama kali datang, ibu Intan bercerita kepada Pdt. Benaya tentang kondisi dan kebutuhan Intan. Ia berharap para guru dapat mendampingi Intan, terutama dalam belajar membaca dan berhitung dasar.
Di balik tantangannya, Intan memiliki banyak kelebihan. Ia anak yang disiplin, mandiri, rajin berdoa, dan suka merapikan barang-barangnya sendiri. Ia terbiasa merapikan rak buku, tempat tidur, dan lemari pakaiannya tanpa diminta. Intan juga punya semangat belajar yang baik, meskipun prosesnya tidak selalu mudah.
Melalui pembelajaran karakter “Siapakah Aku”, Intan mulai belajar mengenal dirinya dan mengelola perasaannya. Para guru juga mengajarkan anak-anak untuk saling mengasihi dan menghormati. Dari lingkungan yang penuh penerimaan ini, Intan mulai berani mengikuti arahan guru, bertanya, dan meminta bantuan.
Kini, Intan tidak lagi hanya diam. Ia mulai bermain bersama teman-temannya, berlari, bercanda, dan menikmati kebersamaan. Di School of Life, Intan menemukan tempat yang membantunya merasa diterima.
Bagi ibunya, perubahan ini membawa sukacita besar. Ia bersyukur karena Intan mendapat kesempatan untuk belajar, bertumbuh, dan menjadi dirinya sendiri di lingkungan yang penuh kasih.
© Copyright 2024
Obor Berkat