Ibu Yane dan Harapan yang Tumbuh di Tengah Ladang Sawah

Kehidupan Ibu Yane berubah total sejak kepergian suaminya pada Februari 2024. Ia harus mengurus dua anak seorang diri tanpa penghasilan tetap, karena suaminya wafat akibat kanker lidah. Saat ini, Ibu Yane hanya bisa mengandalkan penghasilan dari berjualan sayur di pasar dengan penghasilan yang tak sampai satu juta rupiah per bulan.

Namun di tengah kesulitan yang hampir membuatnya putus asa, harapan mulai tumbuh saat komunitas Ekklesia Airkom dan Obor Berkat Indonesia (OBI) mengenal kisahnya. Salah satu fasilitator OBI berkunjung ke rumahnya sekitar satu bulan setelah suaminya meninggal, atas rekomendasi koordinator dari kegiatan School of Life yang diikuti anak-anak Ibu Yane. Dari pertemuan itu, komunitas melihat betapa besar kebutuhan Ibu Yane, tidak hanya secara ekonomi, tetapi juga dukungan secara rohani.

OBI memberikan modal usaha berupa bibit padi dan alat-alat pertanian. Komunitas Airkom juga bersedia meminjamkan lahan untuk dikelola tanpa biaya sewa, sekaligus membantu Ibu Yane belajar bercocok tanam. Meskipun awalnya tidak memiliki pengalaman, dengan semangat dan dukungan dari komunitas, Ibu Yane belajar menanam padi dan mengelola lahan dengan penuh tekad.

Bersama-sama mereka mempersiapkan lahan, menanam, dan merawat tanaman. Kebersamaan dan gotong royong menjadi kekuatan baru yang membangkitkan semangat Ibu Yane. Hasil kerja keras itu akhirnya membuahkan hasil yang menggembirakan karena mereka bisa panen padi sebanyak 78 karung.

Panen ini menjadi titik harapan. Persediaan beras cukup hingga musim berikutnya, dan Ibu Yane pun mulai merancang masa depan yang lebih baik. Anak-anaknya bangga melihat sang ibu bekerja keras di sawah, membuktikan bahwa harapan bisa tumbuh, bahkan di tengah duka.

Melalui kerja sama dan kepedulian, kita bisa membantu lebih banyak ibu seperti Ibu Yane untuk bangkit dan membangun masa depan yang lebih cerah. Dukunganmu, sekecil apa pun, sangat berarti dalam proses pemulihan kehidupan mereka.

Share berita baik ini yuk!