Kasih adalah seorang anak berusia delapan tahun yang dikenal aktif, ceria, dan sangat lancar berbicara. Namun, di balik keaktifannya, Kasih memiliki tantangan dalam mengendalikan tutur kata. Ia sering berbicara tanpa menyaring ucapannya, menggunakan kata-kata yang terdengar kasar, baik kepada teman maupun orang di sekitarnya. Kebiasaan ini membuat hubungan pertemanan Kasih kurang harmonis dan sempat menimbulkan jarak dengan beberapa temannya di sekolah.
Perubahan mulai terjadi ketika Kasih mengikuti pembelajaran di School of Life. Melalui proses pendampingan yang penuh kesabaran, Kasih belajar mengenali sikap dan perkataan yang baik. Ia mulai memahami bahwa setiap kata yang diucapkan memiliki dampak bagi orang lain. Materi pembentukan karakter, nilai-nilai Firman Tuhan, serta teladan dari para tutor membantunya belajar mengendalikan diri, menghormati orang lain, dan membangun relasi yang sehat.
Proses ini tidak instan. Selama kurang lebih enam hingga tujuh bulan, perubahan Kasih berlangsung secara bertahap. Orang tua mulai melihat perbedaan sejak Kasih duduk di kelas dua SD. Jika sebelumnya ia cenderung langsung berbicara tanpa berpikir, kini Kasih lebih berhati-hati dalam memilih kata-kata. Ia mulai belajar menahan emosi dan memahami situasi sebelum berbicara.
Kini, Kasih menunjukkan pertumbuhan karakter yang nyata. Ia lebih ramah, mau menolong teman, dan mampu bergaul dengan baik di lingkungan sekolah maupun rumah. Hubungan dengan teman-temannya pun semakin erat, konflik berkurang, dan kepercayaan dirinya bertumbuh secara positif. Orang tua dan lingkungan sekitar mengakui bahwa perubahan Kasih sangat signifikan dibandingkan sebelumnya.
Melalui School of Life, Kasih tidak hanya belajar secara akademis, tetapi juga dibentuk menjadi pribadi yang lebih bijak dalam bersikap dan bertutur kata, sebuah bekal penting untuk masa depannya.
© Copyright 2024
Obor Berkat