Dua Bulan Tidak Bisa Berjalan, Geo Belajar Bersabar dari Kisah Ayub

Dua Bulan Tidak Bisa Berjalan, Geo Belajar Bersabar dari Kisah Ayub

Geo, seorang anak didik sanggar belajar School of Life GKMI Ekaristi Pringsewu. Ia dikenal sebagai anak yang aktif bermain futsal dan melayani sebagai pemain keyboard di Sekolah Minggu. Namun, sebuah kecelakaan di rumah membuat seluruh aktivitasnya harus berhenti untuk sementara.

Saat itu, Geo melompat di lantai rumah dan mengalami cedera pada kakinya. Papanya sempat mengira ia hanya keseleo. Setelah menjalani pemeriksaan dan rontgen, keluarga baru mengetahui bahwa tulang kering Geo patah.

Geo kemudian dibawa ke Bandar Lampung untuk menjalani reposisi tulang dan pemasangan gips hingga paha. Selama dua bulan, ia harus berbaring dan belum dapat berjalan seperti biasanya. Keadaan tersebut membuat Geo sedih. Ia bahkan sempat bertanya mengapa Tuhan yang baik mengizinkannya mengalami rasa sakit. Mamanya terus mendampingi dan menjelaskan bahwa setiap peristiwa dapat membawa pelajaran dalam kehidupan.

Menemukan Kekuatan dari Kisah Ayub

Di tengah pergumulannya, Geo menonton kisah Ayub melalui animasi Superbook di sanggar belajar School of Life. Ia melihat bagaimana Ayub tetap percaya kepada Tuhan meskipun menghadapi penderitaan yang berat.

Kisah tersebut menyentuh hati Geo dan membantunya melihat keadaannya dari sudut pandang berbeda. Perlahan, kesedihannya berubah menjadi penerimaan. Ketika merasa lelah dan bosan menunggu kesembuhan, Geo memilih berdoa.

“Sabar menunggu sembuh,” menjadi pelajaran yang paling melekat dalam dirinya selama masa pemulihan.

Geo juga merasakan perhatian dari teman-teman sekolah dan Sekolah Minggunya. Mereka datang menjenguk serta mendoakannya. Dukungan tersebut membuat Geo menyadari bahwa ia tidak melewati masa sulit itu seorang diri.

Belajar Bersyukur dan Menghargai Keluarga

Masa pemulihan turut mendekatkan hubungan Geo dengan adiknya. Ketika Geo belum dapat bergerak sendiri, sang adik membantu merawat dan menemaninya, bahkan menolongnya pergi ke toilet. Perhatian tersebut membuat Geo semakin menghargai keluarganya. Ia mulai lebih sering mengucapkan terima kasih dan tidak ragu meminta maaf. Bagi Mamanya, perubahan sikap itu menjadi salah satu berkat yang muncul dari masa sulit mereka.

Setelah dua bulan, Geo akhirnya dapat kembali berjalan dan menjalani aktivitasnya. Ia kini memahami bahwa kemampuan berjalan, yang dahulu terasa biasa, merupakan anugerah yang patut disyukuri. Semangatnya untuk melayani juga tidak padam. Bahkan ketika kakinya masih digips, Geo sudah ingin kembali bermain keyboard di Sekolah Minggu.

Kisah Geo menunjukkan bahwa masa sulit dapat menjadi ruang untuk belajar bersabar, bersyukur, dan semakin menghargai kasih Tuhan serta keluarga.

Share berita baik ini yuk!