Fenomena anak bermain game online memang tidak bisa dihindari saat ini.

Fajar Kecanduan Game Online, Tapi Hal Inilah yang Merubahnya

Fenomena anak bermain game online memang tidak bisa dihindari saat ini. Seperti Fajar, remaja 15 tahun yang kini duduk di kelas 9 Paket B Sekolah OBI. Padahal, ia sudah menjadi bagian dari sekolah ini sejak kelas 5 SD. Namun, semua berubah saat Fajar naik ke tingkat SMP. Ia mulai terpengaruh lingkungan pertemanan yang hobi bermain game online hingga larut malam.

Awalnya hanya untuk hiburan, tapi perlahan Fajar terjebak. Ia sering tidur sampai subuh, bangun siang, dan akhirnya malas berangkat sekolah. Ibunya berkali-kali marah, bahkan sering dipanggil pihak sekolah karena Fajar tidak hadir. Bukannya sadar, ia justru semakin membantah dan mudah marah. Hingga suatu hari, ia mengalami sakit mata parah akibat terlalu lama menatap layar ponsel.

Di tengah masa-masa itu, seorang guru dari Sekolah OBI datang berkunjung ke rumahnya. Guru tersebut memberi nasehat dan mendoakan Fajar yang sedang sakit. Momen itu menjadi titik balik. “Saya mulai sadar kalau sekolah itu penting,” ujar Fajar. Keesokan harinya, ia memutuskan kembali ke sekolah dan perlahan meninggalkan game online.

Perubahan tidak terjadi instan. Setiap hari Fajar mendapat motivasi dari guru-guru untuk fokus pada cita-cita dan menghargai nasehat orang tua. Lingkungan yang peduli dan doa yang tulus membuatnya semakin yakin bahwa masa depannya masih bisa ia bangun.

Kini, Fajar sudah benar-benar berhenti bermain game online. Ia kembali bersemangat belajar dan ingin menebus waktu yang dulu terbuang. “Saya bersyukur, di Sekolah OBI saya mendapat banyak nasehat dan motivasi berharga. Perhatian dan doa mereka membuat saya percaya, masa depan saya bisa lebih baik,” kata Fajar penuh keyakinan.

Perjalanan Fajar adalah bukti bahwa setiap anak punya kesempatan kedua. Dengan dukungan yang tepat, bahkan anak yang pernah tersesat di dunia game bisa bangkit dan menemukan kembali jalannya menuju mimpi.

Share berita baik ini yuk!