Charly (14 tahun), yang kini duduk di hadapan anak-anak sambil mengajarkan alat musik di School of Life Elroy Semarang, adalah sosok yang jauh berbeda dibandingkan dirinya empat tahun lalu. Saat itu, ia lebih banyak diam dan sulit membuka diri kepada orang-orang di sekitarnya.
Empat tahun lalu, Charly datang ke School of Life Elroy Semarang dengan luka yang berat bagi anak seusianya. Setelah kedua orang tuanya bercerai, ia tinggal bersama sang nenek yang merawatnya seorang diri di tengah keterbatasan ekonomi. Perpisahan tersebut meninggalkan trauma mendalam dalam dirinya. Selama dua tahun, luka itu mengubah Charly yang sebelumnya ceria menjadi anak yang sering melamun dan sulit berkonsentrasi saat berada di sekolah.
“Ketika orang tuaku bercerai, aku menjadi pendiam, lebih banyak bersembunyi, dan duduk di pojok,” ceritanya.
Charly bergabung dengan sanggar belajar satu tahun setelah kedua orang tuanya bercerai. Ibunya berharap langkah tersebut dapat menjadi jalan untuk membantu Charly dalam belajar. Namun, ketika bergabung, Charly belum bisa langsung didorong untuk mengikuti pelajaran.
Para tutor School of Life tidak menyerah. Mereka menyadari bahwa sebelum menerima pelajaran, Charly perlu merasakan perhatian, kasih sayang, dan rasa aman. Dengan sabar, para tutor terus mendampinginya. Mereka juga berkomunikasi dengan sang nenek dan menguatkannya dalam mendampingi Charly di rumah.
Salah satu pelajaran yang paling membekas dalam hati Charly adalah modul “Siapa Aku bagi Allah”. Melalui materi tersebut, ia mulai memahami bahwa hidupnya berharga. “Walaupun ayah dan ibu meninggalkan aku sejak kecil, sekarang aku tahu ada Allah yang sayang kepadaku,” ungkap Charly.
Perlahan, perubahan mulai terlihat. Charly mulai membuka diri dan menunjukkan keaktifannya selama mengikuti kelas di School of Life. Ia juga mulai rajin mengikuti pelayanan di gereja dan senang membantu neneknya. Nilai-nilai akademisnya pun turut mengalami perkembangan. Ia berhasil lulus SMP dengan nilai yang sangat baik dan diterima di SMK Negeri yang selama ini diimpikannya.
School of Life berhasil memberikan rasa nyaman dan aman bagi Charly. Karena itu, meskipun seharusnya sudah dinyatakan lulus dari School of Life, ia masih meminta keringanan agar dapat tetap belajar bersama para tutor.
Ketika waktu kelulusannya benar-benar tiba, Charly merasa sedih karena harus meninggalkan School of Life. Ia pun berjanji akan kembali untuk membantu para tutor dengan memanfaatkan kemampuannya bermain alat musik. Charly ingin menjadi tutor bagi adik-adik lainnya.
© Copyright 2024
Obor Berkat