Ejekan Tak Lagi Menghentikan Ensa dari Mimpinya Menulis

Di sebuah sekolah di Tana Toraja, Ensa dikenal sebagai anak yang pandai menulis cerpen. Guru-gurunya bahkan mempercayainya menjadi wakil sekolah untuk mengikuti lomba menulis di tingkat kabupaten. Namun di balik kemampuannya itu, Ensa menyimpan satu pergumulan: ia sering merasa tidak percaya diri.

Ejekan dari beberapa teman membuatnya ragu pada dirinya sendiri. Ia mulai bertanya-tanya apakah dirinya benar-benar mampu membawa nama sekolahnya dengan baik. Perasaan takut gagal perlahan membuat semangatnya menurun, bahkan hampir membuatnya menyerah sebelum mencoba.

Perubahan mulai terjadi saat Ensa mengikuti kegiatan School of Life di Sanggar Belajar GBI Nafiri Sion, Tanete. Melalui materi bertema Aku Cinta Damai, khususnya tentang hidup bersama orang lain, Ensa belajar bahwa tidak semua perkataan orang harus menentukan langkahnya. Ia menyadari bahwa ia tetap bisa memilih untuk berdamai, tetap melangkah, dan tetap percaya bahwa Tuhan membuka jalan bagi setiap usaha yang dilakukan dengan sungguh-sungguh.

Keberanian itu akhirnya membawa Ensa mengikuti lomba dengan penuh keyakinan. Hasilnya, Ensa berhasil meraih juara tingkat kabupaten. Pengalaman ini menjadi momen penting dalam hidupnya. Ia belajar bahwa menjadi pemenang bukan hanya soal bakat, tetapi juga tentang tekad, kerja keras, dan kepercayaan kepada Tuhan.

Kini Ensa semakin percaya diri dengan kemampuannya. Ia tidak lagi mudah goyah oleh perkataan orang lain. Melalui proses yang ia jalani di School of Life, Ensa belajar bahwa setiap anak punya kesempatan untuk bertumbuh dan berani melangkah menuju mimpinya.

Share berita baik ini yuk!