Sulit membayangkan bahwa anak berusia 12 tahun ini pernah begitu dikuasai amarahnya sendiri. Namun jika ditelusuri kembali, apa yang membuat anak seumuran Jidan Zian mudah marah
Jidan Zian Pratama, siswa kelas 4 SD di salah satu sekolah negeri Tulang Bawang Tengah, adalah anak bungsu dari empat bersaudara. Sejak usia dua tahun, ia tidak lagi merasakan keluarga yang utuh. Ia tumbuh bersama ayahnya, Bapak Sunarto, seorang pedagang kerupuk keliling. Sebagai anak bungsu, hampir semua keinginannya dipenuhi. Namun tanpa disadari, sikap memanjakan itu justru membuat Jidan sulit menerima penolakan.
Saat keinginannya tak terpenuhi, Jidan bisa marah besar. Ia pernah membanting handphone, menendang, bahkan memukul ayahnya sendiri. Kata-kata kasar pun sering terlontar. Namun anehnya, di sekolah Jidan justru menjadi anak yang pendiam dan mudah menangis saat diejek teman. Tekanan batin dan kurangnya kasih sayang dari ibunya yang telah lama pergi membuatnya semakin rapuh. Ia bahkan sempat tidak naik kelas dan putus sekolah selama satu tahun.
Perubahan mulai terjadi ketika Jidan mengikuti sanggar belajar SOL. Melalui pelajaran Spiritualitas dan Karakter, khususnya tema Self Awareness atau Kesadaran Diri, Jidan belajar mengenali perasaannya sendiri. Ia diajarkan memahami emosi marah dan bagaimana mengontrolnya agar tidak berlebihan. Ia juga belajar tentang sikap empatik dan asertif—bagaimana menghargai orang lain dan menyampaikan perasaan dengan cara yang baik.
Perlahan tapi pasti, perubahan itu nyata. Kini, ketika marah, Jidan tidak lagi tantrum atau membanting barang. Ia tidak menendang dan memukul ayahnya lagi. Ucapannya jauh lebih sopan. Di sekolah, ia lebih percaya diri dan tidak mudah menangis saat diejek.
Bapak Sunarto mengakui perubahan itu dengan haru. “Sekarang Jidan sudah mau mendengar nasehat dan lebih menghargai saya sebagai bapaknya,” tuturnya. Tutor SOL, Evi Natalia, juga melihat perkembangan besar dalam diri Jidan.
Perjalanan Jidan belum selesai. Namun hari ini, ia sudah melangkah lebih jauh—bukan lagi sebagai anak yang dikuasai amarah, melainkan sebagai anak yang mulai mengenal dan mengendalikan dirinya sendiri. Dan dari sanalah, masa depan yang lebih cerah mulai terbuka.
© Copyright 2024
Obor Berkat