Danu Tirta Rajasa, seorang remaja berusia 19 tahun, adalah siswa Paket B (setara dengan SMP) di PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) OBI. Kehidupan Danu terguncang ketika ibunya, Kristiana, meninggal dunia akibat sakit keras. Peristiwa itu memberikan pukulan berat bagi Danu dan saudaranya. Danu harus hidup mandiri setelah ayahnya, Herman, menikah lagi setelah kepergian ibunya. Namun, sebagai anak bungsu, Danu tidak hanya kehilangan kasih sayang dari orang tuanya, tetapi juga tidak pernah mendapat uang jajan. Hal itu sangat mempengaruhi pikiran Danu yang saat itu masih seorang anak kecil.
Suatu hari, saat duduk di bangku sekolah, Danu belajar tentang merokok dari temannya. Awalnya, Danu merasa tidak nyaman, tetapi karena sudah terbiasa, dia terus melakukannya. Ketika menjelang masuk SMP, Danu ditawari narkoba oleh seorang kakak kelas. Awalnya, ia menolak, tetapi karena ingin bergaul dan diterima di lingkungan teman-temannya, Danu akhirnya mengambil narkoba itu dan menjadi kecanduan.
Ketika tinggal di Matraman, lingkungan sekitarnya “mendukung” kehidupan narkoba. Danu akhirnya menjadi seorang kurir kecil. Waktu itu, dia tidak memikirkan besarnya bayaran yang diterima atas setiap pengiriman narkoba. Pemicu utamanya adalah keinginan Danu untuk memiliki uang sendiri dan membeli barang-barang yang sebelumnya tidak pernah dimilikinya. Danu mendapatkan barang terlarang tersebut melalui jejaring sosial, Instagram, dan dari situ dia “belajar” tentang pemasaran penjualan narkoba bersama dengan sesama pengedar yang lebih senior. Pada tanggal 22 Maret 2022, Danu tertangkap dan harus membayar jaminan sebesar 32 juta rupiah. Sejak saat itu, Danu terpaksa putus sekolah.
Kemudian, kakaknya dan keluarganya memutuskan untuk memasukkan Danu ke panti rehabilitasi rumah pemulihan. Dalam tiga bulan pertama di tempat rehabilitasi, Danu mengalami masa-masa yang sangat berat. Suatu hari, dalam kegiatan konseling dan bimbingan yang membahas tentang keterbukaan, Danu mengambil langkah pertama dalam perubahan hidupnya untuk lebih dekat dengan Tuhan. Oleh mentornya, Danu didaftarkan ke Paket B PKBM OBI.
Danu bersekolah dengan pengawasan dari mentornya, Ia diantar dan dijemput saat pulang sekolah. “Puji Tuhan, saya bisa melanjutkan sekolah di PKBM OBI, saya dari kecil memang bercita-cita menjadi Polisi itu sebabnya bagi saya sekolah sangat penting dan saya tidak malu untuk kembali ke sekolah sementara saya masih di rehab. Di sekolah OBI juga saya dilayani dengan baik oleh guru-guru serta selalu mendapat bimbingan agar saya tidak terjebak lagi.” Tutur Danu.
© Copyright 2024
Obor Berkat