Bryan adalah anak laki-laki berusia 7 tahun yang kini duduk di bangku kelas 1 SD. Ia adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Ayahnya bekerja sebagai karyawan, sementara ibunya seorang ibu rumah tangga. Di awal kehadirannya di Sanggar Belajar (SOL), Bryan menunjukkan sikap yang sangat pemalu dan pendiam. Jarak rumah Bryan ke lokasi SOL cukup jauh, sekitar 5 km, namun itu bukan satu-satunya tantangan yang dihadapinya.
Di awal mengikuti kegiatan di SOL, Bryan cenderung menyendiri dan sulit berbaur dengan teman-teman. Ia bahkan sangat malu untuk masuk ke ruangan dan harus dijemput oleh gurunya. Jika tidak, ia bisa saja langsung pulang. Karena itu, sang ibu harus menemaninya setiap kali ke SOL. Tak hanya itu, di rumah Bryan juga kerap bersikap kasar terhadap adik-adiknya. Ia merasa kehadiran mereka membuat perhatian orang tua teralihkan darinya. Bryan pun menunjukkan sikap cemburu dan tidak peduli terhadap adik-adiknya.
Salah satu kegiatan rutin di SOL adalah berdoa secara bergiliran sebelum belajar dimulai. Namun, saat tiba gilirannya, Bryan selalu menolak dengan keras. Ia menggelengkan kepala, menunjukkan wajah kesal, bahkan berkeringat dingin dan wajahnya memerah karena takut. Setiap kali, guru harus menggantikan gilirannya dengan anak lain. Hal ini terus terjadi berulang kali.
Melihat kondisi itu, guru SOL, Miss Rosmika Marbun, memutuskan untuk berbicara langsung kepada orang tua Bryan. Dari sana diketahui bahwa Bryan memang pemalu, bahkan terhadap keluarganya sendiri. Namun, di balik sifat pendiamnya, ia memiliki kecenderungan untuk bersikap kasar dan tidak percaya diri. Miss Rosmika pun kemudian berbicara langsung dengan Bryan, memberinya semangat, dan mendorongnya agar lebih percaya diri dan sopan terhadap orang lain.
Materi karakter SOL bertema “Percaya Diri” menjadi titik balik bagi Bryan. Ia mulai memahami bahwa sifat pemalu membuatnya sulit memiliki teman dan meraih prestasi. Sejak itu, Bryan berjanji untuk berubah menjadi anak yang berani dan sopan.
Perubahan Bryan mulai terlihat jelas. Ia kini masuk ke ruang SOL tanpa perlu dipanggil, mengikuti kegiatan ibadah dengan tertib, bahkan sudah bisa berbaur dengan teman-temannya. Tak hanya berani berdoa saat gilirannya, Bryan kini juga bersedia memimpin doa meski bukan gilirannya.
Dalam kegiatan belajar, Bryan mulai berani bertanya jika ada pelajaran yang sulit, termasuk saat pelajaran Matematika. Ia pun dengan percaya diri maju ke depan untuk menyelesaikan soal. Kini, Bryan bahkan terpilih menjadi ketua kelas di kelas kecil karena keberaniannya.
Miss Rosmika menyampaikan rasa syukurnya atas perubahan yang dialami Bryan. Dalam waktu dua bulan, yakni Februari hingga Maret, perkembangan sikap Bryan sangat luar biasa. Ia kini tampil aktif, percaya diri, dan bertanggung jawab. Perubahan ini tidak hanya membanggakan sang guru, tetapi juga membahagiakan orang tua Bryan.
© Copyright 2024
Obor Berkat