Dari Luka Menjadi Harapan: Perjalanan Geby Menemukan Kasih di PKBM OBI Tanah Merah

Geby baru berusia 14 tahun, tapi kisah hidupnya sudah begitu penuh warna. Sejak kelas 5 SD, Geby bersekolah di PKBM OBI, tempat yang kini menjadi saksi perjalanan hidupnya yang luar biasa. Bersama dua saudara kandungnya, Geby dan adiknya masih terus melanjutkan sekolah di OBI, sementara sang kakak sudah menamatkan pendidikan dasar.

Sejak kecil, Geby tumbuh dalam keluarga yang penuh tantangan. Sang ibu harus bekerja serabutan siang dan malam demi mencukupi kebutuhan hidup. Sementara itu, sosok ayah yang kini telah meninggal dunia, tidak pernah menjalankan tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga selama hidupnya. Ia tidak bekerja, tidak memberi nafkah, dan tak hadir dalam kehidupan mereka. Semua beban dipikul sendiri oleh sang ibu, dan Geby menjadi saksi perjuangan itu setiap hari.

hal itu yang membuat rasa marah, kecewa, dan terluka terhadap ayahnya terus membekas. Ia menjadi pribadi yang mudah tersinggung, agresif, dan tertutup. Hanya beberapa teman dekat yang dia percayai, dan ia sering merasa kesal ketika bercanda dianggap sebagai ejekan.

Awal masuk di PKBM OBI Tanah Merah, Geby tampak murung dan lebih banyak diam. Hatinya masih menyimpan luka dan dendam yang dalam terhadap ayahnya. Namun perlahan, lewat proses konseling dan kegiatan tambahan belajar di Sanggar OBI di SOL Rawasengon, Geby mulai berubah. Ia mendapatkan pelajaran penting tentang kasih, pengampunan, dan arti menerima. Dalam ruang yang aman dan penuh kasih, Geby menemukan kembali harapan.

“Meskipun ayah tidak pernah memberi nafkah, tapi kami pernah bahagia bersama… tertawa di rumah, berbagi cerita tentang mimpi-mimpi kami, meski mimpi itu belum terwujud,” kisahnya dengan mata berkaca-kaca.

Kini, Geby yang duduk di Paket B (setara SMP) kelas 8 ini telah belajar melepaskan beban lama itu. Ia belajar memaafkan, bahkan mendoakan ayahnya yang sudah tiada.

“Saya mohon ampun kepada Tuhan, karena saya sempat merasa marah dan kecewa terhadap ayah saya. Sekarang saya mulai mengerti arti mengasihi. Saya ingin jadi anak yang lebih baik, menjaga dan merawat ibu, serta belajar dari masa lalu,” ucap Geby penuh ketulusan.

Melalui konseling, doa, dan kasih yang ia terima, Geby menemukan kekuatan baru. Kini ia terlihat lebih ceria, lebih terbuka, dan memiliki semangat untuk menjadi berkat bagi keluarganya. Di usia mudanya, Geby telah membuktikan bahwa luka bisa sembuh, dan masa lalu tidak harus menentukan masa depan.

Share berita baik ini yuk!