Siapa sangka, sebuah pelajaran sederhana di kelas kecil School of Life bisa mengubah hati seorang anak berusia sebelas tahun? Inilah kisah Yunita Sakan, anak ceria dari sebuah desa sederhana, yang menemukan arti kedamaian lewat proses yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Yunita, seorang anak dari sanggar belajar GMIT Betel Tumu yang saat ini berusia 11 tahun. Ia tinggal bersama kedua orang tuanya dan ketiga saudaranya. Ayahnya bekerja keras sebagai petani dan pedagang di pasar tradisional, sementara ibunya yang merawat mereka di rumah.
Di balik senyumnya yang manis, Yunita pernah menyimpan rasa sakit di hatinya. Candaan antar teman yang seharusnya berakhir dengan tawa, justru menimbulkan pertengkaran. “Awalnya hanya bergurau saja, tapi jadi serius dan akhirnya saya dipukul…” ceritanya Yunita.
Saat itu emosi Yunita terkumpul jadi satu, ia merasa marah, kecewa, dan namun hanya memilih diam. Setiap kali berselisih dengan teman, rasa kesal itu muncul kembali. Namun rasa kesal itu hanya bertahan satu hari, karena ia teringat dengan apa yang ia pelajari di sanggar belajar School of Life.
Di mana saat itu, tutor di School of Life mengajarkan Tema V: “Aku Cinta Damai.” Mereka berbicara tentang pengampunan, tentang bagaimana memaafkan dapat membuat hati kembali tenang. “Karena Tuhan mencintai orang yang mengampuni…” kalimat inilah yang Yunita ingat dari penjelasan tutornya saat itu.
Bukti nyata Yunita telah menemukan kedamaian di hatinya adalah di mana ia bisa bercerita dengan sukacita mengenai pengalaman yang alami di hadapan teman-temannya. Ia juga sudah meminta maaf kepada temannya, begitu juga dengan temannya yang meminta maaf padanya.
Kini, Yunita tumbuh menjadi anak yang lebih lembut, lebih sabar, dan lebih mencintai kedamaian. Ia belajar bahwa damai bukan datang dari keadaan di luar, tetapi dari hati yang mau melepaskan.
© Copyright 2024
Obor Berkat