Mengatasi Jeratan Tengkulak: Intervensi Modal Usaha dari OBI Berbuah Manis

Mengatasi Jeratan Tengkulak:  Intervensi Modal Usaha dari OBI Berbuah Manis

Ketergantungan Petani Lae Hole pada Tengkulak

Mayoritas masyarakat desa Lae Hole, Sumatera Utara menggantungkan hidupnya pada hasil pertanian dengan modal yang dipinjam dari tengkulak. Penghasilan rata-rata mereka sebagai petani dan buruh tani adalah 900 ribu rupiah per bulan. Namun jumlah tersebut tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sekolah anak-anak.

Kebanyakan petani di desa Lae Hole menanam tanaman kopi. Namun karena jarak panen yang cukup lama petani juga menanam kol atau kubis.

Terbatasnya subsidi pupuk dari pemerintah, memaksa petani mengambil pinjaman modal dengan bunga tinggi. Sehingga para petani terpaksa menjual hasil panen mereka dengan harga yang sangat rendah yang ditentukan oleh tengkulak.

Kerjasama OBI dan Gereja Lokal Sidikalang

OBI bekerja sama dengan salah satu gereja lokal di Desa Lae Hole – Sidikalang memilih beberapa keluarga untuk diberikan bantuan agar dapat mengoptimalkan usaha pertanian kol mereka. Salah satu keluarga yang dipilih adalah keluarga Arjon.

Arjon dan istrinya, Bunga adalah petani yang setiap harinya berjuang memenuhi kebutuhan sekolah empat anaknya. Dari penghasilan yang mereka terima tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Namun ada sebuah harapan saat keluarga Arjon menerima bantuan modal usaha pertanian pada awal Maret 2024. Bantuan modal usaha pertanian yang diterima berupa 7.000 bibit kol, kompos, pupuk, dan fungisida sekitar 7 juta rupiah.

Selain itu, ia juga mendapatkan pelatihan book keeping, pembuatan kompos sederhana, dan pendampingan dari fasilitator OBI untuk memilih pembeli yang tepat dan mendapatkan harga pasar terbaik. Gereja lokal juga memberikan pinjaman lahan seluas kira-kira 2.000 m2 untuk dikelola dengan bantuan modal dari OBI.

Panen Pertama yang Menggembirakan

Hingga pada 15 Juli 2024, keluarga Arjon berhasil melakukan panen pertama dengan hasil yang melampaui ekspektasi. Hasil panen dijual secara borongan dengan harga 20 juta rupiah, sehingga mereka tidak perlu menanggung biaya panen dan transportasi.

Dari hasil panen tersebut, Arjon dapat melunasi hutang kepada tengkulak sebesar 5 juta rupiah dan menyisihkan modal sebesar 10 juta rupiah untuk penanaman kol berikutnya. Setelah panen Arjon dan istrinya rencananya akan menanam kembali 10.000 bibit kol yang telah mereka beli.

Bunga sangat bersyukur dan berterimakasih pada OBI atas bantuan yang mereka terima, “Puji Tuhan, kami sangat bersyukur. Bisa bayar hutang dan bayar sekolah anak-anak juga. Nanti kami akan tanam 10.000 bibit lagi, kalau cuaca sudah baik. Terima kasih OBI sudah membantu kami.”

More articles: Kelompok Petani Makalelon Menanam Nilam

Share berita baik ini yuk!