Amelia (6 tahun), atau akrab disapa Amel, tinggal bersama neneknya setelah orang tuanya berpisah. Ayahnya pun kini sudah membangun keluarga baru. Sejak itu, Amel menjadi anak yang pendiam dan lebih sering berbagi cerita hanya kepada neneknya. Sikap pendiam Amel juga terlihat saat ia mengikuti kegiatan di Sanggar Belajar School of Life GBI Boja Segrumung.
Di balik senyumnya yang manis, Amel sering menyimpan rasa rindu sekaligus iri. Ia kerap membayangkan bagaimana rasanya hidup seperti teman-temannya yang bisa pulang ke rumah dan disambut oleh kedua orang tua. Perasaan itu membuatnya kadang merasa sedih dan berbeda.
Namun, pada Februari lalu, Amel mengikuti kelas pengembangan karakter dengan tema “Menemukan Misi atau Tujuan Hidup”. Para mentor menjelaskan bahwa setiap anak memiliki tujuan hidupnya masing-masing. Tidak perlu membandingkan diri dengan orang lain, karena setiap orang punya jalan sendiri. Pesan itu perlahan membuka hati Amel. Ia mulai menyadari bahwa meskipun tidak memiliki keluarga yang utuh, ia tetap beruntung karena memiliki nenek yang penuh kasih. Dari situlah ia belajar untuk bersyukur.
Dukungan sang nenek membuat Amel semakin bertekad meraih cita-citanya. Ia belajar dengan sungguh-sungguh, bahkan saat sakit pun tetap ingin pergi ke sekolah. “Aku mau sekolah, Uti. Kalau tidak, aku bisa ketinggalan pelajaran teman-temanku,” ujarnya membujuk neneknya dengan semangat.
Kini, Amel tidak lagi fokus pada apa yang hilang dari hidupnya. Ia memilih untuk melihat apa yang ia miliki, seperti kasih sayang nenek dan semangatnya untuk menggapai masa depan. Kisah Amel mengingatkan kita bahwa keadaan sulit bukanlah akhir. Justru dari situlah semangat dan harapan bisa tumbuh, jika kita mau melihat sisi terang dari hidup.
© Copyright 2024
Obor Berkat