Baru-baru ini dunia maya sedang digemparkan dengan kasus kekerasan pada anak di Batam oleh ibu kandungnya. Seorang anak berusia 13 tahun mengalami penganiayaan oleh ibu kandungnya karena menyembunyikan handphone sang ibu.
Anak tersebut melarikan diri ke rumah tetangga dalam kondisi luka-luka, termasuk luka di kepala dan leher yang terikat rantai besi. Kini pelaku yang kini dijerat dengan Undang-Undang Perlindungan Anak, dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara.
Namun pernahkah Anda berpikir bahwa tindak kekerasan pada anak seolah sudah menjadi budaya yang melekat bagi orang Indonesia. Karena bukannya menurun, angka kekerasan pada anak malah semakin meningkat setiap tahunnya. Setiap hari berita dan media sosial selalu digemparkan dengan kasus kekerasan baru yang membuat pemerhati anak mengelus dada.
Dikutip dari goodstats.id, data terbaru Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (SIMFONI-PPA) yang dikelola oleh KemenPPPA, hingga tahun 2024 tercatat 10.592 kasus kekerasan anak, dengan korban mencapai lebih dari 11.000 anak. Dari jumlah tersebut, 8.329 korban adalah perempuan dan 3.376 adalah laki-laki.
Provinsi Jawa Barat mencatat kasus tertinggi sebanyak 1.065, diikuti Jawa Timur (902 kasus) dan Jawa Tengah (747 kasus). Jumlah ini meningkat signifikan dibandingkan tahun 2016, di mana korban kekerasan anak baru mencapai 5.235. Fakta ini menjadi alarm bagi masyarakat akan perlunya upaya serius dalam melindungi anak-anak dari kekerasan.
Kekerasan terhadap anak berdampak langsung pada fisik dan mental mereka. Anak yang menjadi korban kekerasan fisik berisiko mengalami cedera, cacat, bahkan kematian. Sementara itu, kekerasan emosional dan seksual meninggalkan luka psikologis seperti trauma, depresi, kecemasan, hingga gangguan stres pascatrauma (PTSD).
Dampak lain mencakup masalah perilaku, kesulitan dalam hubungan sosial, hingga prestasi akademis yang rendah. Anak yang hidup di lingkungan kekerasan juga cenderung memiliki risiko lebih tinggi menjadi pelaku kekerasan di masa depan. Kondisi ini menunjukkan betapa pentingnya mencegah kekerasan sejak dini agar anak dapat tumbuh dan berkembang dengan optimal.
Sebagai orang terdekat, orangtua memiliki peran penting dalam melindungi anak dari kekerasan. Namun apa yang terjadi jika orangtua malah berperan sebagai pelaku kekerasan? Berikut ini adalah hal yang dapat kita lakukan untuk melindungi anak-anak :
BACA JUGA : Kisah Inspiratif Cici: Dari Korban KDRT Menjadi Pribadi yang Percaya Diri dan Berprestasi
Pemerintah telah mengambil langkah penting, seperti edukasi publik, penguatan layanan perlindungan anak, serta layanan konseling. Namun, keberhasilan inisiatif ini memerlukan partisipasi aktif masyarakat. Dengan meningkatkan kesadaran dan komitmen bersama, kita dapat menciptakan lingkungan yang aman bagi anak-anak, sehingga mereka dapat tumbuh menjadi generasi yang sehat dan tangguh.
Kekerasan anak bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan juga tugas kita semua. Bagikan artikel ini untuk meningkatkan awareness kepada orang di sekitar Anda!
© Copyright 2024
Obor Berkat