Mikayla Zheena Zebua (5 tahun), anak didik PAUD Benih Kasih GKPB MDC Telukdalam, Nias Selatan, mengalami perubahan dari pelajaran yang sederhana.
Sejak pertama kali bergabung di PAUD satu tahun yang lalu, Mikayla dikenal sebagai anak yang ceria. Ia senang bermain bersama teman-temannya. Akan tetapi disaat bersamaan ia juga dikenal sebagai anak yang tidak mau meminta maaf, meskipun berbuat salah. Sementara jika ada teman yang berbuat salah kepadanya, Mikayla akan dengan tegas meminta temannya untuk meminta maaf.
Hal ini juga dikonfirmasi oleh ibunya, “Untuk kata yang lain, minta tolong dan terima kasih, dia bisa. Tapi entah kenapa, kalau disuruh minta maaf, mulutnya bisa dikunci rapat. Bahkan rela dia dipukul bapaknya, dibanding mengeluarkan kata maaf,” cerita Ibunya.
Guru Super5 melihat hal ini sebagai bagian dari proses belajar yang wajar bagi anak-anak seusianya. Karena itu, sepanjang tahun ajaran 2024/2025, para guru mulai mengajarkan materi dari Kurikulum Super5 dengan tema “Aksiku untuk Orang Lain”, khususnya tentang aksi kebaikan di sekolah.
Melalui materi ini, anak-anak diperkenalkan pada tiga kata sederhana yang disebut sebagai “tiga kata ajaib”: terima kasih, tolong, dan maaf. Di mana setiap hari, para guru mengingatkan anak-anak untuk mempraktikkan tiga kata ini dalam keseharian mereka. Jika ada yang melakukan kesalahan, guru dengan sabar mengingatkan, “Apa kata ajaib yang bisa kita gunakan?”
Proses perubahan Mikayla tidak terjadi secara spontan, butuh waktu satu tahun lamanya untuk Mikayla bisa mengucapkan kata “Maaf” saat melakukan kesalahan.
Pertama kali ia mau meminta maaf pada temannya terjadi pada 20 Juni 2025, saat hari pembagian rapor. Saat itu Mikayla sedang bermain bersama teman-temannya. Seperti anak-anak pada umumnya, mereka sempat saling mengejek.
Biasanya, Mikayla akan langsung marah dan meminta temannya untuk meminta maaf. Namun kali ini berbeda. Ia justru terdiam sejenak. Lalu ia mengulurkan tangannya kepada temannya dan berkata pelan,
“Aku minta maaf ya.”
Guru yang menyaksikan tindakan Mikayla terkejut, sekaligus bangga. “Puji Tuhan… akhirnya.” hanya kalimat itu yang bisa keluar dari guru PAUD saat itu.
Momen kecil itu terasa sangat berarti bagi guru PAUD dan orang tua Mikayla. Karena dimulai dari hari itu, Mikayla selalu meminta maaf ketika melakukan kesalahan di rumahnya. Kedua orang tuanya sangat bangga akan perubahan anak mereka.
Bagi para guru di PAUD Benih Kasih, perubahan ini menjadi pengingat bahwa pendidikan karakter sering dimulai dari hal-hal sederhana.
© Copyright 2024
Obor Berkat