Tian Akhirnya Bisa Memperkenalkan Diri!

Tian Akhirnya Bisa Memperkenalkan Diri!

Ada momen-momen kecil di dalam kelas yang mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi seorang guru, momen itu terasa sangat berharga. Salah satunya adalah ketika seorang anak akhirnya berani mengucapkan kata-kata yang selama ini sulit keluar dari mulutnya. Momen itu terjadi pada Christian Odiansa Lenggu, yang biasa dipanggil Tian.

Tian mulai bergabung di kelas pada akhir Maret 2025 dengan kondisi speech delay. Pada masa awal, Tian hampir tidak merespon saat diajak berbicara. Ia terlihat kesulitan berkomunikasi, baik dengan guru maupun teman-temannya. Ketika ditanya sesuatu, Tian sering hanya diam atau memberikan respon yang sangat terbatas. Bagi para guru, ini menjadi tantangan tersendiri, namun mereka tetap sabar mendampingi Tian hari demi hari.

Hingga suatu hari di akhir bulan Mei, sesuatu yang sederhana namun sangat berarti terjadi. Dengan suara pelan, Tian akhirnya mengucapkan kalimat yang selama ini dinanti-nantikan, “Namaku Tian.”

Kalimat singkat itu membawa sukacita besar bagi para guru. Dari titik kecil itu, perubahan Tian mulai terlihat perlahan. Ia mulai berani merespon ketika diajak bicara. Meski jawabannya masih pendek dan belum terlalu jelas, Tian mulai mencoba menyampaikan pikirannya. Kadang ia berkata, “Aku tidak mau,” atau “Yang ini saja,” sebagai cara untuk mengungkapkan perasaannya.

Seiring waktu, perkembangan Tian semakin terlihat. Kini ia dapat menjawab pertanyaan dengan lebih lancar dan merespon dengan baik di dalam kelas. Bahkan Tian sudah berani berdiri di depan teman-temannya untuk mengucapkan super ayat yang diambil dari materi renungan. Ia juga berani memuji Tuhan di depan kelas.

Selain itu, Tian memiliki satu hobi yang sangat ia sukai: menggambar. Perubahan Tian tidak hanya terlihat di sekolah. Menurut cerita ibunya, Tian kini sering menceritakan kembali kegiatan yang ia lakukan di sekolah setiap hari dengan sangat antusias. Ia juga mulai membiasakan diri berdoa sebelum tidur serta sebelum dan sesudah makan. Lagu-lagu rohani yang ia pelajari di sekolah pun sering ia nyanyikan di rumah.

Hal yang paling membahagiakan adalah Tian mulai menerapkan tiga kata sederhana yang penuh makna: tolong, maaf, dan terima kasih.

Bahkan setiap pagi, Tian sering bangun lebih dulu daripada abangnya. Dengan penuh semangat ia akan membangunkan kakaknya sambil berkata, “Cepat Abang, aku tidak mau terlambat ke sekolah.”

Dari seorang anak yang dulu sulit merespon, kini Tian tumbuh menjadi anak yang berani berbicara, mengekspresikan dirinya, dan menikmati proses belajar.

Satu kalimat sederhana, “Namaku Tian,” ternyata menjadi awal dari perjalanan perubahan yang luar biasa.

Share berita baik ini yuk!