Sejak kecil, Abdullah Zaidan (15 tahun) tumbuh besar di dalam keluarga dengan konduisi ekonomi yang jauh dari kata cukup. Kedua orangtuanya bekerja sebagai pemulung untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga mereka. Hal ini membuatnya berhenti sekolah dan lebih banyak menghabiskan waktunya untuk bermain dan membantu kedua orangtuanya. Meski begitu, dalam hatinya ia tetap percaya bahwa sekolah itu penting. Namun, keterbatasan ekonomi keluarga serta kebiasaannya lebih banyak bermain membuat semangat belajarnya terhambat.
Sampai akhirnya, beberapa guru di PKBM OBI Tanah Harapan melihat dia dan berusaha untuk mengajak Zaidan untuk datang belajar ke sekolah. Pertanyaan yang ia ingat yang disampaikan saat itu adalah “Kamu mau belajar ke sekolah lagi nggak?”. Zaidan menjawab, “Mau, kalau ada kesempatan.”
Saat itulah ia bergabung dengan Paket A di PKBM OBI. Akan tetapi karena tidak pernah belajar sejak kecil, Zaidan tidak bisa membaca dan berhitung. Guru-guru Tanah Harapan selalu menyediakan waktu lebih setelah jam pulang sekolah untuk mengajarin Zaidan. Hingga akhirnya ia lancar membaca dan berhitung dalam kurun waktu beberapa bulan.
Selain belajar akademis, Zaidan mengalami perubahan dari pembelajaran karakter yang ia terima dari kurikulum School of Life. Nilai tanggung jawab yang ia pelajari di PKBM mulai terlihat nyata ketika ayahnya mengalami kecelakaan. Dalam situasi itu, Zaidan memilih menyerahkan tabungan pribadinya Rp800.000 sebesar untuk membantu pengobatan ayahnya.
Ia mengaku sebenarnya merasa sayang menggunakan uang tersebut. Namun saat ayahnya nyaris kehilangan ingatan, Zaidan langsung memberikan tabungannya tanpa pikir panjang.
Sejak peristiwa itu, guru-guru melihat perubahan sikap yang semakin nyata. Zaidan menjadi lebih tenang, lebih rajin masuk sekolah, aktif mengikuti kegiatan, dan mulai menunjukkan tanggung jawab sebagai siswa.
Zaidan sudah tahu apa mimpinya di masa depan, ia ingin menjadi seorang entepreneur. Maka dari itu, ia tidak pernah bolos sekolah lagi, bahkan ia rajin mengikuti pelatihan komputer.
Secara pribadi, Zaidan merasakan perubahan dalam cara berpikirnya. Ia menjadi lebih dewasa dan belajar menghadapi kesulitan dengan berdoa. Ketika merasa kecewa karena keadaan keluarga, ia memilih menyampaikan pergumulannya melalui doa hingga hatinya menjadi lebih tenang.
Perjalanan Zaidan menunjukkan bahwa pendampingan yang konsisten, pembelajaran karakter, serta perhatian dari guru dapat membantu seorang anak bertumbuh—bukan hanya dalam akademik, tetapi juga dalam kedewasaan berpikir dan tanggung jawab terhadap keluarga.
© Copyright 2024
Obor Berkat