Ikat Pinggang, Ikat Harapan: Perjalanan Nina dari Tanah Merah

Ikat Pinggang, Ikat Harapan: Perjalanan Nina dari Tanah Merah

Usaha Mikro, Dampak Makro
Di Tanah Merah, Jakarta Utara, Nina Nur Hasanah (48), seorang ibu dengan satu anak, menenun harapan lewat usaha ikat pinggang sintetis yang ia rintis sejak awal 2025 bersama suaminya. Dari rumah kecil yang sekaligus menjadi ruang produksi, Nina mengerjakan seluruh proses secara manual, memotong kulit sintetis, merekatkan, hingga menjahit, dibantu dua keponakannya yang bekerja penuh waktu.

Meski produksi meningkat, hampir semua pendapatan habis untuk membeli bahan baku, tanpa tersisa untuk tabungan bahkan sering kali tidak ada uang tersisa untuk membayar gaji pekerja.

Melihat potensi dan kegigihannya, Obor Berkat Indonesia (OBI) memberi dukungan modal dan pelatihan sejak awal 2025. Hasilnya, produksi meningkat dan target penjualan terlampaui. Kini, OBI kembali menambah modal untuk memproduksi 400 lusin sabuk wanita, dengan target kapasitas 700 lusin per bulan. Inisiatif ini akan menopang penghasilan tiga keluarga penerima manfaat dan membuka lapangan kerja tambahan di sekitar komunitas.

Gambar: Keluarga Nina Nur Hasanah

Dengan biaya produksi sekitar Rp22,9 juta dan potensi pendapatan Rp36 juta, usaha Nina bukan hanya menghidupi keluarganya, tetapi juga menjadi sumber penghidupan bagi orang lain. OBI akan terus melakukan monitoring mingguan, pelatihan manajemen produksi, dan dokumentasi perkembangan usaha hingga akhir tahun.

Gambar: Ikat pinggang sintetis
Gambar: Ikat pinggang sintetis

Harapan yang Terjahit Rapi
Melalui inisiatif seperti ini, OBI tidak hanya membantu usaha kecil, tetapi juga membangun ekosistem pemberdayaan yang berkelanjutan. Kisah Nina menjadi cermin semangat perempuan Indonesia, bertahan, berdaya, dan membawa dampak. Karena dari satu sabuk yang dijahit rapi, terikat pula harapan untuk keluarga, komunitas, dan masa depan yang lebih baik.

Share berita baik ini yuk!