Bullying Tidak Menghentikan Langkah Putri untuk Melayani

Putri Handayani Ningsih (14 tahun), tumbuh besar di Semarang bersama ibunya yang bekerja sebagai buruh harian. Selain bersama ibunya, ia juga tinggal bersama kakak perempuannya, ipar, serta dua keponakannya. Kehidupan keluarga mereka sangat sederhana, meskipun begitu hal tersebut tidak mengecilkan hati Putri.

Ia adalah anak didik dari sanggar belajar School of Life Generasi Emas yang sudah ia ikuti sejak kecil. Namun Putri dikenal sebagai anak yang sangat pemalu dan kurang percaya diri. Di sekolah maupun di sanggar belajar, ia sering merasa tertinggal dibandingkan teman-temannya, terutama dalam hal akademis.

Tidak jarang, keadaan itu membuatnya menjadi bahan ejekan. Ketika teman-temannya menertawakan atau mengejeknya, Putri sering kali kembali menutup diri. Ia menjadi semakin pendiam dan merasa tidak cukup baik.

Namun para tutor di School of Life tidak menyerah. Mereka terus mendampingi Putri dengan sabar, melewati berbagai pasang surut yang ia alami. Perlahan, Putri mulai belajar bahwa dirinya berharga dan mampu berkembang.

Salah satu momen penting terjadi ketika Putri mengikuti materi dalam kurikulum sanggar belajar bertema Aku Cinta Damai, khususnya tentang mengampuni orang yang bersalah. Dari materi itu, Putri belajar cara menghadapi situasi yang tidak menyenangkan tanpa harus membalas dengan kemarahan.

Ketika kembali menghadapi ejekan dari teman-temannya, Putri memilih cara yang berbeda. Ia tidak membalas. Ia belajar mengelola emosinya dan menyerahkan perasaannya dalam doa. Sikap tenang itu justru membuat ejekan yang dulu sering ia terima perlahan berhenti. Teman-temannya akhirnya lelah sendiri.

Perubahan Putri mulai terlihat jelas. Ia yang dulu pemalu kini mulai berani berbicara di depan teman-temannya. Ia juga dipercaya memimpin doa, bernyanyi, bahkan membantu adik-adik kelasnya belajar di sanggar belajar.

Kini Putri tidak hanya menjadi peserta, tetapi juga menjadi sosok kakak bagi anak-anak yang lebih muda. Ia aktif melayani sebagai singer di ibadah youth maupun ibadah anak di gereja, dan sering membantu mempersiapkan kegiatan sanggar belajar.

Bagi para guru di sanggar belajar, perubahan ini menjadi alasan untuk bersyukur. Orang tua Putri pun merasakan hal yang sama. Mereka melihat bagaimana Putri tumbuh menjadi pribadi yang lebih berani, lebih percaya diri, dan lebih siap menghadapi hidup.

Share berita baik ini yuk!