Ejekan karena kehilangan ayah pernah membuat Artha Margaretha Tampubolon merasa rendah diri. Remaja berusia 16 tahun ini sering memilih menyendiri karena merasa tidak memiliki potensi yang dapat dibanggakan.
Artha mulai mengikuti School of Life (SOL) Gereja Baptis Indonesia Peniel Cabang Kampung Pom Bensin, Telaga Punggur, sejak kelas 3 atau 4 SD. Di sana, ia bertemu Ibu Ida yang terus mendampingi, mendoakan, dan mengajarkannya tentang keberhargaan diri.
“Waktu saya mengikuti School of Life, saya diajarin Ibu Ida sampai bisa percaya diri seperti sekarang,” cerita Artha.
Pendampingan itu tidak memberikan perubahan secara instan. Artha membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk melihat kemampuan dalam dirinya. Dukungan dari guru, motivasi dari gembala, doa bersama, dan kesempatan melayani perlahan mengubah cara pandangnya.
Saat duduk di kelas 7 SMP, Artha mulai menyadari bahwa dirinya memiliki kemampuan dalam bidang musik. Ia kemudian dipercaya menjadi pemimpin pujian di SOL, bermain piano, dan mengajarkan musik kepada anak-anak yang lebih muda.
Kini, Artha mengambil peran sebagai tutor sebaya. Pengalaman yang dahulu membuatnya merasa sendiri justru membantunya memahami pentingnya mendampingi anak lain agar tidak mengalami perasaan serupa.
Perkembangan Artha juga terlihat dalam bidang akademik. Dahulu ia merasa kesulitan berhitung. Setelah mengikuti les matematika, kemampuannya meningkat dan ia mulai menyukai pelajaran tersebut.
Kepercayaan diri dan ketekunan Artha membawanya pada pengalaman baru. Ia menjadi salah satu dari tujuh siswa yang dipilih mewakili sekolahnya berkunjung ke Korea Selatan karena prestasi dan keaktifannya dalam pelayanan musik.
Di sana, Artha mengamati kegiatan belajar, mengunjungi beberapa gereja, dan melihat kebiasaan masyarakat menjaga kebersihan. Ia juga terkesan dengan sikap anak-anak muda yang mengikuti ibadah dengan sungguh-sungguh tanpa bermain ponsel. Pengalaman tersebut ia bagikan kembali kepada teman-temannya sebagai kesaksian dan pelajaran untuk terus bertumbuh.
Artha mengakui bahwa dirinya masih berproses. Namun, ia kini lebih mampu mengabaikan ejekan karena menyadari bahwa perkataan tersebut tidak menentukan nilai dirinya.
Melalui pendampingan yang konsisten dan kesempatan untuk melayani, Artha tidak hanya menemukan kepercayaan diri. Ia juga menemukan potensi yang kini digunakan untuk membantu anak-anak lain bertumbuh.
© Copyright 2024
Obor Berkat