“Aku nggak suka di rumah. Aku nggak suka lihat mamaku dikasarin,” ucap Kheysia membuka ceritanya.
Remaja perempuan berusia 15 tahun ini harus menghadapi banyak perubahan dalam hidupnya. Perpisahan orang tua dan kehadiran orang baru di keluarganya membuat Kheysia merasa sedih, kecewa, dan sulit untuk percaya lagi.
Keadaan di rumah juga tidak selalu mudah baginya. Saat menghadapi perlakuan keras, Kesya lebih sering memilih diam karena takut. Saat ada masalah, Kheysia tidak banyak bercerita kepada orang lain. Ia lebih sering menyimpan semuanya sendiri.
Dalam masa itu, Kheysia sempat memiliki seorang teman dekat. Awalnya, teman itu menjadi tempatnya merasa didengar. Namun lama-kelamaan, pertemanan itu membawa pengaruh yang kurang baik. Kheysia mulai malas belajar dan beberapa kali bolos sekolah.
Namun, setelah belajar di PKBM OBI Tanah Harapan, Kheysia mulai belajar banyak hal. Ia belajar untuk lebih berhati-hati dalam memilih teman dan tidak mudah percaya begitu saja kepada orang lain. “Jangan asal dapat teman, terus kita langsung percaya. Kita harus lebih berhati-hati,” ungkap Kheysia.
Dari para guru, Kheysia juga belajar tentang kejujuran dan percaya diri. Pelajaran itu membantunya untuk mulai berubah sedikit demi sedikit. “Kita nggak boleh bohong, kita harus jujur,” katanya.
Sekarang, Kheysia sudah tidak bolos sekolah lagi. Ia telah menemukan tempat yang aman untuknya berbagi keluh kesah di sekolah lewat pendampingan konseling. Semua perubahan ini juga berdampak pada nilai-nilai sekolahnya yang mulai membaik. Ia kembali punya semangat untuk belajar dan memiliki cita-cita menjadi guru, karena ia melihat guru sebagai sosok yang bisa mengerti dan membantu anak-anak.
Kisah Kheysia menunjukkan bahwa anak yang pernah kehilangan arah tetap bisa bangkit ketika mendapat lingkungan yang baik, pendampingan yang tepat, dan kesempatan untuk terus bertumbuh.
© Copyright 2024
Obor Berkat