Fahranisa Anggraini, atau yang akrab disapa Fara, adalah anak perempuan berusia 7 tahun dari Kabupaten Semarang. Ia tinggal bersama kedua orang tua dan kakak-kakaknya. Sebagai anak bungsu, Fara tentu membutuhkan perhatian dalam masa tumbuh kembangnya. Namun karena kedua orang tuanya cukup sibuk bekerja, perhatian untuk Fara sering kali harus terbagi. Hal inilah yang menjadi salah satu alasan mama Fara mendaftarkannya untuk bergabung di School of Life.
Saat pertama kali mengikuti School of Life lima bulan lalu, Fara masih sering menangis dan ngambek ketika keinginannya tidak terpenuhi. Ia bisa menangis saat teman yang biasa bermain dengannya memilih bermain dengan anak lain. Ketika dinasihati, Fara belum mau mendengarkan dan tetap larut dalam tangisnya.
Fara juga sering menangis jika mamanya tidak bisa mengantarnya ke School of Life. Di sisi lain, mamanya tentu tidak selalu bisa mendampingi Fara dalam setiap proses belajarnya. Sampai usia 6 tahun, Fara juga masih mengalami kesulitan dalam berhitung. Saat itu, ia baru mampu berhitung sampai angka 20.
Namun perlahan, perubahan mulai terlihat. Setelah sekitar lima bulan mengikuti School of Life, Fara belajar melalui kurikulum bertema “Kreativitas” yang mengajarkan tentang pemecahan masalah lewat permainan dan kegiatan yang menyenangkan. Awalnya, Fara masih kesulitan dan kerap merengek meminta bantuan tutor. Namun setelah diarahkan dan didampingi dalam beberapa pertemuan, Fara mulai berani mencoba menyelesaikan tugasnya sendiri.
Kini, Fara menjadi lebih mandiri. Ia tidak lagi mudah menangis seperti sebelumnya dan mulai belajar mengelola emosinya. Semangat belajarnya pun bertumbuh. Jika dulu ia baru bisa berhitung sampai 20, sekarang Fara sudah mampu berhitung sampai 100.
Perubahan ini mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi mama Fara, hal ini sangat berarti. Ia bersyukur karena melalui School of Life, Fara bukan hanya belajar berhitung, tetapi juga belajar menjadi anak yang lebih berani, mandiri, dan percaya diri.
© Copyright 2024
Obor Berkat