Setiap anak punya cara sendiri untuk merasa aman. Ada yang mudah bercerita, ada juga yang membutuhkan waktu lebih lama sebelum berani mengungkapkan isi hatinya. Bagi Syechan, keberanian untuk berbicara bukan sesuatu yang datang begitu saja.
Syechan Aufaa Saif, anak berusia 10 tahun dari Tulang Bawang Barat. Sejak kecil, Syechan lebih banyak tumbuh dalam suasana yang tidak terlalu banyak komunikasi. Ibunya, harus bekerja di kota sejak Syechan masih berusia 18 bulan. Sementara ayahnya, Bapak Slamet, bekerja sebagai buruh harian.
Di rumah maupun di sekolah, Syechan jarang berbicara. Saat ditanya guru, ia lebih sering menjawab dengan anggukan atau gelengan kepala. Bukan karena ia tidak peduli, tetapi karena ia takut salah bicara. Ia juga lebih sering menyendiri ketika teman-temannya bermain.
Perlahan, perubahan mulai terlihat setelah Syechan mengikuti sanggar belajar School of Life. Melalui pelajaran Spiritualitas dan Karakter dari Content Curriculum Tema 8: Kreativitas, dengan subtema “Apa yang dapat kulakukan?”, Syechan belajar bahwa ia bisa menggunakan kreativitasnya untuk memecahkan masalah sehari-hari. Ia juga didorong untuk membangun relasi yang sehat melalui komunikasi.
Dengan pendampingan tutor, Syechan mulai berani menyapa, bertanya, dan menyampaikan pendapat. Di kelas, ia tidak lagi hanya menjawab dengan gerakan kepala, tetapi mulai berbicara dengan suara yang lebih jelas. Ia juga semakin sering bermain bersama teman-temannya, seperti sepak bola dan petak umpet.
Perubahan ini juga dirasakan keluarganya. Ibunya melihat Syechan kini lebih terbuka, lebih banyak bertanya, dan lebih sering berinteraksi di rumah.
Bagi Syechan, keberanian itu tidak datang sekaligus. Ia tumbuh perlahan, ketika ia menyadari bahwa suaranya berharga dan ada orang-orang yang mau mendengarkannya.
© Copyright 2024
Obor Berkat