“Iya, dikatain miskin karena cuma kasih 2000,” Cerita Hendriko Gustiano Fallo, atau akrab dipanggil Riko, seorang siswa PAUD Super5 OBI Tanah Harapan, Jakarta Utara. Usianya masih beranjak 6 tahun, tapi ia sudah pernah mengalami hal yang tidak menyenangkan saat ia memberikan persembahan di sekolah minggu. “Persembahanmu cuma dua ribu, persembahan saya lima ribu,” kata salah satu temannya saat itu.
Meskipun terkesan bercanda, ternyata perkataan itu sangat membekas di hati Riko. Ia merasa malu, minder, dan akhirnya tidak mau lagi mengikuti ibadah anak karena takut mengalami hal yang sama. Jika ia datang beribadah, ia juga tidak memberikan persembahan karena takut diejek lagi oleh temannya itu.
Semua itu harus ia alami, sampai akhirnya cara pandangnya berubah saat ia mendengarkan penjelasan dari guru ketika menonton kisah alkitab Superbook di sekolah. Saat itu menonton kisah “Persembahan Janda Miskin”. Ketika guru bertanya mengenai persembahan, Riko memberanikan diri menceritakan pengalaman yang pernah ia alami. Guru PAUD Super5 kemudian memberikan pemahaman kepada Riko bahwa Tuhan tidak melihat besar kecilnya jumlah persembahan, tetapi melihat hati yang tulus saat memberi.
Pelajaran sederhana di hari itu cukup memberikan perubahan pada Riko. Meskipun tidak langsung terlihat, akan tetapi ia kembali berani mengikuti ibadah anak dan memberikan persembahan. Ia tidak lagi merasa malu, meskipun persembahan yang ia bawa tidak besar. Ibunya yang mendengar perubahan ini dari guru Super5 pun merasa bersyukur. Karena sebelumnya Riko sempat menutup diri dan menolak untuk datang ke sekolah minggu. Bahkan saat ditanya, apa yang Riko lakukan jika diejek lagi, ia dengan bangga menjawab “Biarin aja, tidak mau dengar.”
© Copyright 2024
Obor Berkat