Sejak kecil, Okto Junior Trio Hutahaean harus belajar menerima kenyataan bahwa keluarganya tidak lagi utuh. Setelah orang tuanya berpisah, ia tinggal terpisah dari kedua abangnya dan diasuh oleh bibinya di Laguboti. Di usianya yang masih 12 tahun, Okto menyimpan banyak pertanyaan dan perasaan yang sulit ia ungkapkan, terutama rasa kecewa karena merasa kurang mendapat perhatian dari orang tuanya.
Perasaan itu perlahan memengaruhi sikapnya di sekolah dan di lingkungan sekitar. Okto sering mengganggu teman dan membuat keributan di kelas. Di balik sikap tersebut, sebenarnya ada kerinduan sederhana: ingin diperhatikan dan disayangi seperti anak-anak lainnya.
Perubahan mulai terjadi ketika Okto bergabung dalam kegiatan School of Life (SOL) di GBI Gasaribu. Para tutor dengan sabar mendampinginya, memberi perhatian, dan terus memotivasi Okto agar ia merasa diterima. Salah satu momen yang paling berkesan bagi Okto adalah saat ia menonton kisah Esau dan Yakub melalui tayangan Superbook. Dari cerita itu, Okto belajar tentang arti mengampuni, bahkan kepada orang yang pernah melukai hati.
Perlahan, Okto mulai belajar berdamai dengan masa lalunya. Ia berdoa agar Tuhan menolongnya mengampuni ibunya dan memulihkan hubungannya dengan keluarga.
Kini, perubahan itu semakin terlihat. Okto mulai berani tampil di depan kelas dan lebih mudah diarahkan. Ia juga merasakan bahwa masih banyak orang yang peduli dan menyayanginya, terutama bibinya dan para tutor di SOL.
Perjalanan Okto belum selesai. Namun langkah kecilnya untuk belajar mengampuni telah membuka jalan baru bagi dirinya untuk bertumbuh dengan lebih percaya diri dan penuh harapan.
© Copyright 2024
Obor Berkat