Melki, 12 tahun, adalah anak bungsu dari lima bersaudara yang sejak usia satu tahun harus tumbuh tanpa kehadiran ayah. Ia tinggal bersama ibunya yang sudah berusia lebih dari 60 tahun. Keterbatasan ekonomi dan kurangnya perhatian keluarga membuat Melki memendam banyak perasaan sendiri. Dalam keseharian, ia sering membantu ibunya mengantar galon air ke rumah warga. Namun, kelelahan dan beban hidup membuatnya semakin jauh dari sekolah. Ia beberapa kali membolos, sulit diatur, bahkan sempat kedapatan merokok bersama teman yang lebih dewasa.
Saat pertama bergabung di Sanggar Belajar SOL, Melki datang tanpa semangat. Ia cenderung diam, tidak fokus, dan enggan terlibat. Hingga suatu hari, dalam pembelajaran Tema 8: Kreativitas (B.8.2) “Apa yang Bisa Kulakukan?”, Melki mulai melihat hidupnya dari sudut pandang yang berbeda. Ketika diminta melanjutkan sebuah cerita, ia berkata pelan, “Saya pengen punya papa.” Kalimat sederhana itu membuka ruang bagi Melki untuk mulai jujur dengan perasaannya. Ia belajar bahwa masalah tidak harus dihadapi dengan kemarahan, tetapi bisa dicari jalan keluarnya dengan cara yang lebih baik.
Sejak saat itu, perubahan Melki terlihat semakin nyata. Ia mulai datang tepat waktu, lebih mudah diarahkan, dan berani terlibat dalam kegiatan. Melki juga aktif mengikuti les berenang dan drum, bahkan mengajak teman-temannya ikut bergabung di sanggar.
Menurut Mem Yuli Yanti dan Miss Maria, perubahan Melki terlihat jelas dalam sikapnya yang kini lebih tenang, ramah, dan penuh semangat. Melki sedang belajar bahwa masa depannya tetap punya harapan, dan ia bisa memilih langkah yang lebih baik setiap hari.
© Copyright 2024
Obor Berkat