Bencana Longsor Nias 2025: Harapan di Tengah Kelaparan

Bencana Longsor Nias 2025: Harapan di Tengah Kelaparan

Bencana banjir dan longsor yang melanda Sumatera Utara pada 2025 lalu menyita perhatian publik. Namun pemberitaan nasional seolah terkunci pada Tapanuli Tengah, Aceh dan sekitarnya. Padahal disaat yang bersamaan Kepulauan Nias berjuang melawan luka yang tak kalah dalam.Longsor menimpa beberapa rumah di Nias. Di sinilah Obor Berkat Indonesia hadir, memastikan bahwa warga Nias tidak sendirian menghadapi masa sulit.

Di saat banyak bantuan menumpuk di pusat-pusat keramaian di daratan Sumatera, tim OBI justru bergerak melawan arus menuju kepulauan. Mereka menyadari bahwa isolasi geografis Nias seringkali membuat bantuan terlambat sampai. OBI mengerahkan logistik ke desa-desa di pedalaman Nias yang sulit dijangkau.

Bagi Ibu Anisati Zagoto (57), krisis ini dimulai dengan drama mencekam di tengah laut. Selama lima hari, ia terombang-ambing di atas kapal yang tak bisa bersandar karena ombak besar, hanya bertahan hidup dengan mi instan seadanya. Saat berhasil menginjakkan kaki di Telukdalam, ia justru disambut kelangkaan beras dan harga pangan yang melambung tinggi. Ia sempat berjuang menyambung hidup dengan menjual daun ubi, namun stok beras di rumahnya benar-benar habis. Di titik nadir itulah, bantuan sembako dari OBI datang melalui gerejanya pada 13 Desember 2025. Baginya, beras tersebut adalah jawaban ajaib atas doa yang ia panjatkan di tengah keputusasaan.

Kisah pilu juga datang dari Ibu Sartiani Manao (63), seorang janda yang hidup dalam kemiskinan di rumah rapuh dengan atap berlubang. Dalam kondisi tubuh yang lemah, tuli, dan menderita diabetes, ia seringkali hanya bisa makan sedikit nasi yang diseduh air hangat. Ia sempat berkeliling mencari pertolongan ke keluarga, namun mereka pun hidup dalam keterbatasan. Ketika tim OBI Nias datang membawa paket sembako, tangis harunya pecah. Bagi Sartiani, bantuan ini bukan sekadar bahan pokok, melainkan bukti nyata bahwa Tuhan tidak pernah melepaskan tangannya, meski ia hidup seorang diri di tengah kepungan kesulitan.

Sementara itu, di Desa Silimabanua-Laowi, Nenek Hatizomasi Hulu (75) harus berjuang merawat suaminya yang lumpuh di tengah hujan ekstrem yang membuat jemuran pinangnya membusuk. Tanpa penghasilan dari pinang, ketersediaan makanan mereka menipis. Tak hanya krisis pangan, tim OBI yang berkunjung pada 1 Desember 2025 mendapati pasangan lansia ini tidur di atas tikar tipis yang membuat tulang mereka sering sakit. Selain memberikan sembako, OBI memberikan kejutan berupa kasur dan sprei baru. Dengan pelukan hangat, Nenek Hatizomasi membisikkan “Saohagolo”—terima kasih—atas kasih yang hadir tepat saat mereka merasa tidak ada lagi yang merawat.

Tanggap bencana Nias 2025 membuktikan bahwa dalam situasi darurat, Obor Berkat Indonesia adalah penghubung vital antara keputusasaan dan harapan. Kehadiran mereka memastikan bahwa meskipun mata dunia tertuju pada tempat lain, “Obor” kemanusiaan tetap menyala terang di Bumi Tanö Niha.

Share berita baik ini yuk!