Desyana (32), guru TK Swasta Kristen Tomorrow’s Hope di Gunungsitoli, Nias, tak pernah menyangka mendapat kesempatan emas dari Tuhan. Kesempatan itu datang saat Desyana mengikuti training Super5. Di tengah pelatihan, diumumkan bahwa CBN membuka beasiswa RPL S1 PG PAUD untuk guru-guru yang belum memiliki gelar PAUD. Mendengar kabar itu, hati Desyana langsung tergerak. Di tengah segala keterbatasan yang ada, kesempatan ini terasa seperti jawaban doa yang sudah lama dinantikan.
Sekolah tempatnya mengajar masih baru berdiri pada tahun ajaran 2024/2025. Namun ada satu kendala besar: belum ada guru yang bergelar PAUD. Padahal, sesuai aturan terbaru dari Dinas Pendidikan, setiap sekolah harus memiliki dua hingga tiga guru dengan gelar yang linear. Tanpa itu, izin operasional sulit diproses.
“Sekolah kami belum punya guru bergelar PAUD, sementara izin operasional sangat kami butuhkan,” ungkap Ibu Desyana.
Dengan penuh semangat, ia mendorong rekan-rekannya untuk ikut mendaftar beasiswa. Harapannya sederhana: ada satu saja yang lolos dan bisa membantu sekolah berkembang. Puji Tuhan, dari sekolahnya hanya Ibu Desyana yang terpilih. Meski guru lain belum berhasil, mereka tetap mendukung penuh.
Namun sukacita itu tidak berlangsung lama. Yayasan belum mampu membantu pembiayaan kuliah sesuai kesepakatan. Ibu Desyana pun sempat goyah.
“Jujur saya sempat berpikir untuk mengundurkan diri. Biaya kuliah, perjalanan ke Salatiga, kebutuhan anak, dan pengobatan orang tua terasa berat sekali,” tuturnya.
Bersama suami, ia menghitung kembali penghasilan mereka. Tidak ada asisten rumah tangga, tidak ada keluarga yang membantu menjaga anak ketika nanti harus kuliah onsite. Semua dipikirkan dengan cermat, bahkan dengan air mata.
“Rasanya ingin menangis. Tapi kami memilih percaya Tuhan pasti menolong dan mencukupkan.”
Perjalanan kuliah pun dimulai. Ibu Desyana harus membagi fokus antara mengajar dan mengikuti perkuliahan daring. Jaringan di Nias sempat terganggu akibat bencana. Administrasi kampus juga sempat membuatnya ragu. Namun satu per satu, pertolongan datang. Dosen memahami situasinya, tim Super5 membantu ketika ada kendala.
Kini, setelah satu semester, dampaknya terasa nyata. Ia belajar tentang literasi anak, permainan edukatif, hingga penanganan Anak Berkebutuhan Khusus. Semua langsung diterapkan di kelas.
“Beasiswa ini bukan hanya tentang gelar, tetapi tentang panggilan untuk membangun PAUD yang berlandaskan Firman Tuhan,” katanya.
Perjuangan itu masih berjalan. Tantangan biaya untuk kuliah onsite masih ada. Namun Ibu Desyana melangkah dengan keyakinan yang sama. “Tuhan yang memulai, Tuhan juga yang akan menyelesaikan.”
© Copyright 2024
Obor Berkat