Proses Leony Menjaga Hatinya dengan Belajar Berkata “Tidak”

Bagaimana rasanya menjadi remaja yang ingin diterima, tetapi juga takut terseret ke arah yang salah? Itulah pergumulan yang pernah dirasakan Leony, siswi kelas 7 SMPN di Toraja. Di usianya yang baru 12 tahun, Leony sudah belajar satu hal penting: tidak semua ajakan teman harus diikuti.

Leony adalah salah satu anak binaan School of Life GBI Nafiri Sion Toraja. Sebelum belajar materi tentang “pergaulan terikat vs pergaulan bebas”, Leony mengaku sempat bingung menentukan sikap. Ada teman-teman yang mengajaknya bolos sekolah, menyontek saat ulangan, bahkan berkata-kata kasar. Ia ingin diterima dalam pertemanan itu. Tetapi di sisi lain, hatinya gelisah. Ia tahu apa yang dilakukan tidak sesuai dengan Firman Tuhan yang pernah ia dengar.

“Dulu saya pernah ikut mereka, waktu SD. Bicara kotor,” akunya. Saat itu ia belum berani berkata tidak.

Semua mulai berubah ketika Leony mengikuti pembelajaran di School of Life. Melalui firman Tuhan dan materi tentang pergaulan, ia belajar bahwa teman yang salah bisa membawa pada arah yang salah. Ia diajarkan untuk berbicara dengan sopan, menjaga perkataan, dan memilih lingkungan yang sehat.

Sejak itu, Leony mulai berani mengambil keputusan berbeda. Ia membatasi diri dari teman-teman yang memberi pengaruh buruk. Ia juga belajar mendoakan persahabatannya dan lebih mendekat kepada teman-teman yang membawa pengaruh baik.

Tidak selalu mudah. Ketika ia menolak ajakan yang tidak baik, ada teman yang marah dan menjauh. Ia sempat sedih. Namun kini Leony sudah lebih berani berkata, “tidak.”

Perubahan kecil ini sangat dirasakan oleh orang tuanya. Mereka bersyukur melihat Leony menjadi lebih tenang, lebih sopan, dan lebih bertanggung jawab. Di sekolah pun nilainya baik, bahkan ia pernah meraih peringkat 8 di kelasnya. Kini Leony memiliki sahabat yang mendukungnya untuk terus bertumbuh.

Share berita baik ini yuk!