Alron Aunerius Wau, siswa kelas 5 SD Bawomataluo, pernah melalui masa-masa yang tidak mudah di sekolah. Perlahan, pengalaman pahit itu membuat senyum manis di wajahnya memudar.
“Aku sering diejek,” tuturnya pelan. “Ada yang bilang aku hitam, ada yang bilang aku bencong. Jadi aku merasa kesepian. Teman-teman tidak mau bergabung sama aku.” Awalnya mungkin hanya satu dua kata. Tapi lama-kelamaan, ejekan itu seperti duri kecil yang menusuk setiap hari. Ia mulai bertanya-tanya dalam hatinya, apa ada yang salah denganku?
Alron memang berbeda di mata teman-temannya. Ia berbicara dengan nada lembut. Ia senang menari. Ia lebih nyaman bermain bersama anak-anak perempuan. Hal-hal yang baginya biasa saja, justru menjadi sasaran empuk bagi pembully di lingkungannya.
Bahkan ejekan itu tidak berhenti di sekolah, beberapa teman dari sekolah yang sama juga mengejeknya saat di sanggar belajar School of Life BKPN Jemaat Bawomataluo.
“Perasaanku sedih banget… sudah tidak pede,” katanya. Ada jeda panjang sebelum ia melanjutkan. “Pernah ada rasa dendam. Dulu aku marah-marah ke mereka.”
Di dalam hatinya, ada campuran sedih, malu, dan marah. Tapi ia tidak berani bercerita kepada orang tuanya. Ia takut jika teman-temannya tahu, ia akan dicap sebagai pengadu. Jadi ia memendam semuanya sendirian.
Sampai akhirnya, ia memberanikan diri membuka hati kepada tutor di School of Life. Tutor merespons dengan lembut. Alron didoakan. Ia diajak memahami bahwa menyimpan dendam hanya akan melukai dirinya sendiri. Teman-teman yang mengejek pun dipanggil, dan mereka diajak berdoa bersama. Di momen itulah, Alron mulai belajar untuk memaafkan untuk menyembuhkan luka di hatinya.
Namun mengampuni tidak langsung membuatnya percaya diri. Rasa minder itu masih sering muncul. Sampai suatu hari, dalam pelajaran School of Life berjudul “Tubuhku Ciptaan Allah,” ia mendengar sesuatu yang mengubah cara pandangnya terhadap diri sendiri.
Melalui materi itu, tutor menegaskan bahwa setiap anak diciptakan Tuhan dengan tujuan yang baik dan berharga. Alron diajak memahami jati dirinya dan belajar menerima dirinya sebagai seorang laki-laki yang diciptakan segambar dan serupa dengan Tuhan.
“Saat dengar itu, aku bangga,” katanya, kali ini dengan mata yang lebih berbinar. “Karena Tuhan menciptakan aku sesuai gambar-Nya.”
Kini, perubahan Alron terlihat jelas. Ia menjadi lebih percaya diri. Tawanya kembali lepas. Ia tidak lagi takut menghadapi ejekan. “Karena aku berharga di mata Tuhan,” ujarnya dengan mantap.
© Copyright 2024
Obor Berkat