Doa Ibu Dice yang Terjawab Lewat BAKSOS Kesehatan

Doa Ibu Dice yang Terjawab Lewat BAKSOS Kesehatan

Selama enam hari, Ibu Dice harus menahan rasa sakit yang tidak kunjung hilang. Bisul di ketiak kanan membuatnya sulit bergerak. Pekerjaan rumah yang biasanya bisa ia lakukan dengan cepat, kini terasa berat. Bahkan untuk beristirahat pun ia sering merasa tidak nyaman.

Selama itu pula, Ibu Dice hanya bisa melakukan perawatan sederhana di rumah. Bukan karena tidak ingin berobat, tetapi karena kondisi ekonomi keluarga yang terbatas. Bagi Ibu Dice dan suaminya, pergi ke fasilitas kesehatan bukanlah hal yang mudah.

Ibu Dice tinggal tidak jauh dari Gereja GMIT Efrata Karisin. Ia dan suaminya baru menikah sekitar dua tahun dan hidup sederhana. Sang suami bekerja sebagai tukang kayu di gudang dekat rumah. Penghasilannya tidak menentu dan sangat bergantung pada cuaca. Saat musim panas, pendapatan berkisar antara Rp700.000–Rp800.000 per bulan. Namun ketika musim hujan, jumlah itu bisa turun hingga sekitar setengahnya. Dengan kondisi seperti ini, kebutuhan sehari-hari harus lebih diutamakan dibandingkan biaya berobat.

Harapan mulai muncul saat Ibu Dice mendengar pengumuman bakti sosial kesehatan dalam ibadah Minggu. Informasi sederhana itu memberi harapan baru. Pada hari pelayanan, sekitar pukul 11.00 siang setelah ibadah, ia memutuskan untuk datang.

Jaraknya sangat dekat, hanya sekitar lima menit berjalan kaki dari rumah. Langkah singkat itu membawa perubahan besar. Setelah mendaftar dan diperiksa, petugas kesehatan menyampaikan bahwa Ibu Dice mengalami furunkel. Ia kemudian mendapatkan empat jenis obat beserta arahan cara mengonsumsinya dengan benar.

Ibu Dice mengikuti semua anjuran petugas dengan disiplin. Dua hari kemudian, bisulnya pecah dan mulai mengering. Rasa sakit berkurang, dan ia bisa kembali beraktivitas dengan lebih nyaman.

Dengan penuh rasa syukur, Ibu Dice mengungkapkan terima kasihnya. Menurutnya, bakti sosial kesehatan ini sangat membantu masyarakat sekitar, terutama jemaat lansia yang membutuhkan pengobatan yang mudah dijangkau.

Ia juga berterima kasih kepada tim Yayasan OBI atas pelayanan yang diberikan. Harapannya sederhana: semoga setiap orang yang datang berobat tidak hanya dipulihkan secara fisik, tetapi juga dikuatkan secara rohani.

Kisah Ibu Dice mengingatkan kita bahwa pelayanan yang hadir dekat dengan masyarakat dapat menjadi jawaban nyata bagi mereka yang sedang membutuhkan—dan terkadang, harapan itu hanya berjarak lima menit dari rumah.

Share berita baik ini yuk!