Franz Hiu adalah anak laki-laki berusia 7 tahun yang saat ini duduk di kelas 2 SD Maranatha. Ia merupakan anak bungsu dari tiga bersaudara. Kakak tertuanya, Michael, berusia 15 tahun dan duduk di kelas 10, sementara kakak perempuannya, Yen Yen Natalia, berada di kelas 6. Franz tumbuh di keluarga sederhana. Ayahnya, Suwanto Hiu, dan ibunya, Meme, mengelola toko kelontong kecil yang juga menjual sayur-mayur dan ikan segar untuk mencukupi kebutuhan keluarga.
Pada awalnya, perjalanan belajar Franz tidak berjalan mudah. Ia mengalami kesulitan memahami pelajaran di sekolah, terutama membaca dan matematika. Nilai-nilainya banyak berada di bawah rata-rata. Di rumah, Franz juga dikenal sebagai anak yang sering menolak arahan orang tua dan sulit diajak bekerja sama dalam hal-hal sederhana. Kondisi ini membuat orang tua Franz merasa khawatir terhadap perkembangan akademis dan karakternya.
Perubahan mulai terlihat ketika Franz bergabung dengan program School of Life. Melalui bimbingan belajar yang konsisten dan pendampingan dari tutor, Franz mulai memahami pelajaran dengan lebih baik. Pendekatan yang sabar dan terarah membantu Franz mengenal cara belajar yang sesuai dengan kebutuhannya. Perlahan, kemampuan membaca dan berhitungnya meningkat, dan hal ini tercermin dari nilai akademisnya yang membaik secara signifikan di kelas 2.
Tidak hanya dalam hal akademis, perubahan juga terlihat pada sikap Franz di rumah. Jika sebelumnya ia sering memberontak ketika diminta menaruh pakaian kotor atau merapikan barang, kini ia mulai melakukannya dengan lebih konsisten tanpa protes. Kebiasaan-kebiasaan kecil ini menjadi tanda bahwa proses pembentukan karakter dalam diri Franz sedang bertumbuh.
Saat ini, Franz dikenal sebagai salah satu anak yang rajin mengikuti kegiatan SoL. Ia menyukai olahraga dan ibadah. Salah satu cerita yang paling ia ingat adalah kisah kelahiran Yesus. Dengan cara berpikir anak-anak yang polos, Franz bersyukur karena ia lahir di rumah sakit dan bukan di kandang, karena menurutnya kandang penuh rumput yang bisa membuat gatal. Ungkapan sederhana ini mencerminkan rasa syukur yang mulai tumbuh dalam dirinya.
Kisah Franz menunjukkan bahwa pendampingan yang tepat dapat membawa perubahan nyata, baik dalam kemampuan belajar maupun karakter anak. Melalui program sanggar belajar ini, Obor Berkat Indonesia terus berkomitmen mendampingi anak-anak agar memiliki masa depan yang lebih baik.
Mari bersama mendukung lebih banyak anak seperti Franz. Dengan menjadi mitra OBI, Anda turut menghadirkan akses belajar, pendampingan karakter, dan harapan baru bagi anak-anak Indonesia. Bersama, kita menanam benih perubahan yang berdampak jangka panjang.
© Copyright 2024
Obor Berkat