Di kelas TK, suara anak-anak biasanya riuh dan penuh tawa. Namun, ada satu anak yang selalu diam ketika guru menyapanya. Namanya Gabriano Dirly Sijabat, usia 6 tahun 4 bulan, siswa TK B di TK Holy Kids Pringsewu. Gabriano adalah anak yang mandiri, ceria, dan sehat seperti teman-temannya. Ia berani berpisah dari orang tua dan aktif bermain. Tetapi ada satu hal yang membuat para guru bertanya-tanya: Gabriano tidak mau berbicara dengan guru dan orang dewasa.
Menariknya, dengan teman sebaya, Gabriano berbicara lancar, jelas, dan penuh semangat. Di rumah pun, ia hanya mau berbicara dengan tiga orang dewasa: Papa, Mama, dan Bapak tuanya. Ketika masih di TK A, para guru mengira ini hanya rasa malu di awal sekolah. Namun, waktu berjalan satu tahun, dan Gabriano tetap diam setiap kali guru mengajaknya berbicara, bertanya, atau berdoa bersama.
Kondisi ini membuat guru-guru bergumul. Bagaimana memahami kemampuan Gabriano jika ia tidak pernah menjawab? Terlebih, ia akan segera masuk SD. Akhirnya, guru menemukan cara kreatif: menggunakan teman sekelas sebagai perantara. Jika guru ingin bertanya, anak lain yang diminta bertanya kepada Gabriano—dan Gabriano akan menjawab dengan lantang. Cara ini membantu, tetapi kerinduan terbesar tetap sama: melihat Gabriano berani bersuara langsung kepada orang dewasa.
Puji Tuhan, perubahan mulai terlihat saat Gabriano naik ke TK B. Dalam materi tentang diri sendiri dengan tema kita berharga, guru mengajak anak-anak bermain cermin. Sebuah kotak berisi cermin kecil dibawa ke kelas. Setiap anak diminta maju dan diberi pesan bahwa di dalam kotak ada “anak paling keren di dunia.” Ketika giliran Gabriano, ia tersenyum. Guru bertanya pelan, “Siapa anak terkeren di dalam kotak ini?” Dengan suara kecil namun jelas, Gabriano menjawab, “Saya.”
Itulah pertama kalinya Gabriano menjawab langsung pertanyaan guru. Sejak hari itu, guru terus mendorongnya dengan kasih: bahwa ia berharga, tidak perlu malu, dan diciptakan segambar dan serupa dengan Tuhan. Kini, Gabriano mulai mau menjawab pertanyaan guru, membaca kata dan angka sederhana, meski perlahan.
Hari ini, Gabriano sedang belajar percaya diri. Ia mulai berinteraksi, mulai bersuara, dan mulai percaya bahwa dirinya berharga di mata Tuhan. Kami percaya, dengan pendampingan dan doa yang terus mengalir, Gabriano akan bertumbuh semakin berani. Karena ketika Tuhan menjamah, tidak ada yang mustahil.
© Copyright 2024
Obor Berkat