Membaca Tak Lagi Menakutkan bagi Sandro

Di sebuah kelas kecil, suara Sandro hampir tak terdengar. Saat diminta membaca, ia menunduk, mengeja huruf demi huruf dengan ragu, suaranya sangat pelan. Sandro, siswa kelas 2 SD, dikenal sebagai anak yang pemalu. Setiap kali salah menyebut huruf, tawa teman-temannya kerap membuat hatinya ciut. Di rumah, mama Sandro sering bercerita kepada guru bahwa putranya menjadi sedih dan enggan bersuara ketika belajar membaca. Bahkan orang tua pun terkadang ikut gemas, bukan karena marah, melainkan karena ingin melihat Sandro berani.

Rasa takut itu tumbuh dari pengalaman kecil yang berulang. Salah membaca, ditertawakan, lalu memilih diam. Bagi Sandro, membaca bukan sekadar pelajaran, ia menjadi ujian keberanian. Namun, perubahan mulai terlihat ketika Sandro mengikuti kegiatan School of Life (SoL). Di sana, ia belajar tentang mencari misi pribadi, sebuah kurikulum yang mengajarkan bahwa setiap anak memiliki tugas dan panggilan hidup, sebagai bukti bahwa mereka hidup dalam rancangan Allah.

Miss Lora, tutor SoL, menyampaikan pesan sederhana namun kuat: setiap anak berharga, kesalahan adalah bagian dari proses, dan tidak ada alasan untuk berhenti berusaha. Sandro diajak percaya bahwa Allah memiliki rancangan terbaik untuk hidupnya. Firman Tuhan yang ia pelajari—“Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku” (Filipi 4:13)—menjadi penguat langkahnya. Sandro mulai berdoa, meminta pertolongan Tuhan Yesus agar ia berani dan tekun belajar membaca.

Perlahan, keberanian itu tumbuh. Sandro mulai mengangkat suara. Ia tidak lagi berhenti saat keliru. Kini, Sandro sudah lancar membaca. Ia senang membuka buku pelajaran dan membaca Alkitab. Di kelas, ketika diminta membaca, ia maju dengan lebih percaya diri. Jika sesekali salah, ia tidak lagi sedih, ia tahu itu wajar, dan ia tahu Tuhan menolongnya.

Miss Lora melihat perubahan nyata: Sandro lebih berani, lebih santai, dan tidak lagi terpuruk ketika ada tawa. Ia memahami bahwa belajar adalah proses, dan keyakinannya kepada Tuhan membuatnya kuat. Kisah Sandro mengingatkan kita bahwa dengan pendampingan yang tepat, penguatan iman, dan lingkungan yang aman, anak-anak dapat melangkah maju, satu huruf, satu kata, dan satu keberanian pada satu waktu.

Share berita baik ini yuk!